Seorang lelaki pendiam, dengan peci
putih di kepalanya, mulai membuka akun facebooknya. Ia pandangi sejenak beranda
yang memuat keluh kesah, doa, kode, ajang pamer dan segala macam dakwah dari
teman-teman facebooknya. Baginya tak ada yang menarik, hingga ia pun membuka
profilnya sendiri.
Beberapa saat, ia memandangi foto
profilnya sendiri. Ia yakin, foto profil sangat berpengaruh akan reputasi
sekaligus pendongkrak popularitasnya. Makanya, sebelum menulis status, ia harus
memastikan terlebih dulu bahwa foto profilnya sudah mencerminkan sebagai orang
yang arif, baik, kalem, terlebih alim. Ia percaya bahwa harus ada kolerasi
antara cangkang dan isi, antara tampilan dan apa yang ditampilkan. Makanya ia
akan sangat marah jika ada orang yang di satu sisi suka menampilkan foto-foto
yang aduhai, tapi di sisi lain bicaranya tentang keberanan atau mendakwah
kebaikan. Makanya Tere Liye marah.
Setelah dipastikan bahwa stok
fotonya tak ada yang lebih baik ketimbang yang dijadikan foto profilnya
sekarang, maka ia mulai menulis status: “Jika esok hari kiamat akan datang,
atau maut yang menjemput, apa yang akan kau perbuat hari ini?”
Setelah status itu terkirim, lelaki
berpeci putih pun mengusap layar pencari, lalu menuliskan nama seseorang yang
sejak dua tahun ini mengisi hatinya. Ia sadar, tak semua yang ada di dunia ini
dapat ia raih, termasuk jika ia pontang-panting mengejarnya. Namun ia dapat
sedikit mengatasinya, yakni dengan bertamu ke akun profilnya, dan menyaksikan segala
tingkah konyol maupun heroiknya.
***
Sarimin baru bangun dari tidur
siangnya. Sebenarnya ia tak bermaksud tidur, namun apalah daya, buku yang
digenggamnya lebih keras tinimbang batu untuk dipecahkan, hingga ia pun
menyerah dan tak disengaja malah terlelap tidur.
Untuk memulihkan kembali otaknya
yang agak berantakkan, Sarimin memungut handphone canggihnya. Bagi Sarimin,
berselancar di dunia maya adalah semurah-murahnya tamasya. Lewat dunia maya,
Sarimin bisa tertawa ngakak sendirian di kamar, bisa teriak “Eureka” sambil
joget-joget bak Archimides atas hal yang telah dia dapat, atau bisa juga
menatap nanar sambil menyanyi sendu. Akibat pengalamannya itu, Sarimin
menyimpulkan: “Dunia maya adalah dunia sempurna antara impian dan keinginan
manusia.”
Saat bertamasnya di dunia maya,
Sarimin membaca satu kalimat status pertanyaan yang membuatnya sedikit
mengerutkan kening: “Jika esok hari kiamat akan datang, atau maut yang
menjemput, apa yang akan kau perbuat hari ini?”
Kerutan kening Sarimin semakin
tampak setelah ia berhasrat berkomentar di status tersebut. Sebelumnya Sarimin
sadar, kalau status itu bukan untuk dijawab, apalagi dikomentari; namun manusia
lahir dan hidup tak selamanya lurus dengan prasangka-prasangka baiknya,
adakalanya ia berpikir dan bersikap diluar logika warasnya sendiri.
Sarimin pun mengomentari: “Kenapa
harus esok? Kenapa tidak sekarang saja? Untuk berandai-andai pun, kita masih
suka tanggung. Hahaha”
Sarimin membuka media sosial untuk
memulihkan pikiran-pikirannya yang sudah agak kusut, maka baginya hanya dengan
lelucon semacam itu pikirannya bisa segera pulih kembali. Sarimin membayangkan akan
seperti apa ekspresi wajah pemilik status itu, atau siapa saja yang sempat
membacanya. Sarimin puas dengan leluconnya itu.
***
Setelah berjelajah hampir satu
setengah jam di dunia maya, Amir sudah mulai merasa bosan. Sudah tidak ada lagi
kegiatan yang harus ia laporkan, sudah tidak ada lagi akun yang biasa ia intip,
dan sudah tidak ada lagi pesan dan komentar yang harus ia balas. Ia sudah
memastikan bahwa hari ini ia yang paling beruntung, yang paling bahagia, atau
yang paling spektakuler pengalamannya.
Sebelum menutup ritualnya, ia
kembali menengok beranda facebooknya, barangkali ada status baru dari si dia
untuk menjawab kode-kode yang sudah ia pasang, atau status baru yang harus ia
komentari supaya dunia perfecebookan dapat tercerahkan. Ia pun mendapati satu
status yang mengajaknya berpikir, atau lebih tepatnya merenung. Namun ia tak
punya waktu untuk merenung, ia hanya tau berpikir, bagaimana pun caranya.
“Jika esok hari
kiamat akan datang, atau maut yang menjemput, apa yang akan kau perbuat hari
ini?”
- Kenapa harus
esok? Kenapa tidak sekarang saja? Untuk berandai-andai pun, kita masih suka
tanggung. Hahaha-
Amir mulai mengetik: “Mensedekahkan
semua harta yang kita miliki. Meminta maaf kepada setiap orang. Bersujud
bersimpuh di hadapan-Nya. Mari kita bertaubat, karena kiamat sudah dekat.” Setelah
dibaca berulang-ulang kali, dan merasa jawabannya yang paling tepat, Amir pun
langsung mengusap layar ‘kirim’.
***
Setelah selesai membaca surat
Ar-Rahman, pemuda berpeci putih kembali membuka akun facebooknya. Ada 19
pemberitahuan. Dari semua pemberitahuan itu, beberapa di antaranya menyangkut
status yang ia kirim tadi siang.
Ia membuka akun profilnya, lalu
mencermati statusnya yang terbaru. Ada 305 yang menyukai, 29 yang membagikan,
dan 56 yang mengomentari. Ia hanya berhasrat membaca beberapa komentar saja,
karena akan sangat melelahkan baginya jika harus membaca seluruhnya.
“Jika esok hari
kiamat akan datang, atau maut yang menjemput, apa yang akan kau perbuat hari
ini?”
- Kenapa harus
esok? Kenapa tidak sekarang saja? Untuk berandai-andai pun, kita masih suka
tanggung. Hahaha-
- Mensedekahkan
semua harta yang kita miliki. Meminta maaf kepada setiap orang. Bersujud
bersimpuh di hadapan-Nya. Mari kita bertaubat, karena kiamat sudah dekat.-
- Mas, apa nggak
bertentangan antara bersujud dan bersimpuh? Itu beda lho...-
- Maaf, saya
bukan orang Jawa. Panggilnya Akang saja.-
- Dari dulu
kiamat sudah dekat-kiamat sudah dekat, tapi sampai sekarang nggak terjadi juga.
Uang dan aset berharga saya sudah hampir habis untuk sedekah, saya pun
mengundurkan diri dari pekerjaan karena ingin lebih khusu mendekatkan diri
kepada-Nya. Dasar penyebar hoax.-
- Wah, Akang
jangan rasis gitu. Saya juga kalau dipanggil Akang oleh orang yang tak saya
kenal akan menjawab, bukan mempermasalahkan panggilan. Silakan sekarang jawab
saja pertanyaan saya, jangan banyak ini itu.-
- Situ pernah
baca puisi, kan? Jangan samakan antara diksi puitis dengan diksi non puitis.-
-
Astagfirullah... Ini bukan hoax, De. Ini peringatan supaya kita tidak terlalu
terlena sama dunia. Kalau Ade sudah banyak bersedekah, seharusnya Ade
bersyukur, karena itu akan menjadi bekal kelak di akhirat. Kalau Ade sudah bisa
dekat dengan-Nya, seharusnya Ade pun jangan banyak mengeluh seperti sekarang.
Percayalah De, indah bisa dekat
dengan-Nya itu.-
- Oh Akang lagi
nulis puisi. Kenapa adanya di kolom komentar? Apa gak salah tempat?-
- Kalau esok
hari kiamat, ya aku akan bahagia. Karena akan berakhir pula penderitaan aku di
dunia.-
- Betapa
mirisnya. Apa Ukhti sudah menjanjikan kalau kelak di akhirat akan bahagia?
Penderitaan kita di dunia belum seberapanya dibandingkan neraka. Kalau besok
kiamat, berarti kita termasuk orang-orang akhir jaman, dan betapa ruginya
orang-orang akhir jaman yang menyaksikan kiamat.-
- Jangan kan di
kolom komentar ini, bagi saya, gayung pun adalah sebuah puisi-
- Jangan kiamat
dulu dong, gue kan belum nikah...-
- Kalau gitu,
menurut Akang, titit pun sebuah puisi dong? Terus apa bedanya diksi puitis dan
diksi non puitis seperti dalam komentar Akang di atas?-
- Oh kamu belum
nikah? Sama aku juga belum. Hehehe-
- Statusnya apa,
komennya apaaaaaaaaaa-
- Iya. Yang
komen di sini pada sableng-sableng.-
- Iya kamu juga,
kan ikut komen.-
Setelah membaca komentar yang ke
19, pemuda berpeci putih itu beristigfar, lalu membuat status baru lagi.
“Budayakan sebelum berkomentar, membaca dan berpikir terlebih dulu.” Pemuda
perpeci putih itu pun mengusap layar ‘kirim’.
Ia menyadari bahwa statusnya itu
mungkin akan bernasib sama dengan status sebelumnya; dikomentari hanya untuk
dijadikan lelucon, numpang narsis, atau pijakan untuk menaikan popularitasnya.
Namun ia tak begitu peduli dengan keadaan itu, karena bagaimana pun
perdebatan-perdebatan yang seharusnya tak diperdebatkan di kolom komentarnya,
menunjukkan sudah bertapa populernya ia. Ia seperti ingin memadamkan api dengan
menyanyi, bukannya mengambil air dan menyiramnya. Karena kalau memang suka
berdiskusi dengan sebenar-benarnya, datangi saja perkumpulan orang-orang yang
suka manjing-jing buku; selain ilmu, secangkir kopi mungkin kau dapatkan secara
cuma-cuma.

Komentar
Posting Komentar