Desa dalam Benak



Dalam novelnya Umar Kayam, Para Priyayi, saya masih mengingat sebuah latar yang sederhana; sebuah rumah yang di depannya ada pohon nangka. Pohon nangka itu tak hanya dijadikan karakter atau pembeda, tapi juga sebuah simbol keteguhan hati penghuninya. Lantip adalah manusia yang lahir di rumah itu. Ketika ibunya pergi berjualan, Lantip menjaga neneknya. Setelah neneknya meninggal, Lantip selalu menemani ibunya berjualan. Pada satu saat, ada sebuah keluarga kaya yang ingin menyekolahkan Lantip, dan dimulai saat itulah Lantip menjadi saksi kemelut kehidupan Priyayi. Walau Lantip hidup dikalangan Priyayi, tapi ia tak pernah lupa pada kulitnya; ia bersahaja kepada siapa saja dan tak pernah memposisikan diri sebagai orang yang serba tau.

Dalam novel Mantra Penjinak Ular-nya Kuntowijoyo, bab pertamanya berjudul: Sebuah Desa, Sebuah Mitos. Bab ini menceritakan Abu Kasan Sapari yang baru lahir, dan dibesarkan dalam budaya Jawa dengan warna Islam yang sangat kental; ia lahir di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Abu Kasan Sapari dipercaya sebagai salah seorang keturunan pujangga Ronggowarsito, maka ia pun diproyeksikan oleh neneknya untuk menjadi Priyayi; “Kau harus menjadi Priyayi, maka jangan bertingkah seperti petani”, “Jadi orang kecil itu susah. Nasibmu seperti bola, di sepak kesana kemari”, “Calon Priyayi tak boleh begadang”; itulah beberapa penggalan nasihat neneknya untuk Abu Kasan Sapari, maka Abu Kasan Sapari pun dituntut hanya untuk belajar dan mengejar kebijaksanaan hidup.

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi salah satu pesantren yang ada di Indonesia, tepatnya di Dayeuhkolot. Saat tiba saya langsung dikasih tiga stiker oleh seorang santriwati cantik, dan tanpa banyak spik-spik basi saya pun digiring menuju salah satu ruangan kelas. Di sana baru dijelaskan bahwa hari itu ada festival karya santri, dan stiker tadi untuk menilai karya mana yang lebih menohok hati.

Awalnya tak tega untuk memberikan penilaian, karena tiap karya pastinya mempunyai arti dan perjuangannya tersendiri. Tapi setelah dirayu sedemikian rupa oleh santri, terutama oleh santriwati, saya pun berputar-putar bak Tuhan yang akan menentukan nasib sebuah karya. Dalam posisi seperti itu, objektifitas rasanya hilang. Godaan tak datang dari satu arah, tapi dari berbagai arah. Pertama, bagaimana pun, ketika seorang laki-laki atau santri merengek, memelas dan lain sebagainya yang berintikan minta perhatian, sama menjengkelkannya dengan ketika mereka loncat-loncat di kelas. Kedua, betapa pun centilnya santriwati untuk mendapatkan nilai besar, tapi kegenitan mereka seolah sah sah saja; entah kenapa. Ketiga, tiap orang akan menilai karya akan tergantung kepada referensi, atau masa lalunya. Dari penilaian subjektifitas itulah, akhirnya saya menilai karya yang berlatar desa yang dikerjakan oleh beberapa santriwati yang menjadi juaranya. Rerata mereka adalah masyarakat kota, tapi rata-rata mereka menggambarkan sebuah desa.

Desa dan kesederhanaannya kini seolah menjadi dunia impian, seperti cerita dongeng untuk menina-bobokan anak-anak. Ia seperti ada, padahal, entahlah. Desa tak pernah mendefinisikan dirinya sendiri, tapi ia didefinisikan oleh yang lain.

Sastrawan dominan menggambarkan desa dari segi ketenangan dan kebersahajaannya, ketimbang ekonominya yang terperas dan terjajah. Media dominan menyorot desa dari segi keindahan dan kesederhanaannya, ketimbang pendidikannya yang tertinggal dan terpinggirkan.

Desa pun kini dipersepsi oleh mereka sebagai dunia impian yang menyimpan segala keindahan dan kebersahajaan. Tak ada yang salah, yang salah hanyalah setan dan kita hanyalah korban; kasihan.

Beda halnya dengan Mahfud Ikhwan yang menggambarkan sebuah desa –atau kampung halaman- tak ubahnya seperti kota; ada yang memeras atau bahkan saling memakan. Benih-benih kejahatan ada di mana saja, kapan saja, begitu pun sebaliknya.

Keasrian sebuah desa hanya pandangan mata semata, seperti indahnya gemerlap lampu di kota-kota; sedang penghuninya, ada yang diam dalam tabah ada juga yang mempersiapkan diri untuk menikam. Desa dalam benak harus tak seindah kehidupan “Ini Budi, ini Ibu Budi, Budi dan Ibu Budi berlibur di rumah nenek,” dalam pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar.

Komentar