Karena Tawa





Jam weker di kamar Marwan berdering kencang. Dengan ketangkasan yang sudah teruji, tangan Marwan langsung menangkapnya, lalu mematikan jam weker tersebut. Marwan pun melanjutkan mimpinya yang sempat terganggu.
Berselang beberapa lama, suara kencang ketuk pintu mengusik kembali rongga telinganya. Bantal yang tadinya terletak di bawah kepala, kini berpindah posisi menjadi di atas. Marwan tak ingin mendengar suara apapun, termasuk desahan napasnya sendiri.

Kini, matahari mulai menyingsing ke atas. Cahayanya mulai menyebar ke seluruh penjuru kota Bandung; menyusuri setiap celah, menerangi setiap lekuk. Cahaya matahari itu pun berhasil menerobos ke kamar Marwan, melewati ventilasi udara yang terletak di atas jendela. Marwan mulai merasakan ada sesuatu yang hadir di dalam kamarnya, maka ia pun segera menyingkirkan bantal yang sedang berada di atas kepalanya ke pinggir, lalu dengan perlahan, membuka kedua matanya. Sejenak, ia memandangi sekeliling, mancari-cari apa yang hadir.

Dengan agak malas, Marwan terbangun, lalu menggeliat dengan nada jengkel. Tanpa berpikir lama, Marwan pergi ke kamar mandi yang terletak dekat pinggir kanan dapur rumahnya. Di tengah perjalanan, ia bertemu ibunya yang sedang menyiapkan sarapan, yang lalu mengomel tanpa henti setelah memergoki Marwan yang baru terbangun. Seperti biasa, Marwan seolah tak mendengar suara apapun, ia lurus saja berjalan menuju kamar mandi; sesekali mulut Marwan kumat-kamit mencontohkan ibunya yang sedang bicara.
***

Bel sekolah berteriak kencang, menandakan jam pelajaran telah habis. Siswa-siswi yang tak sabar ingin cepat pulang, atau yang ingin segera keluar dari lingkungan sekolah, langsung meloncat dengan girang. Sebagiannya lagi dengan hati-hati memasukkan buku pelajaran ke dalam tas. Ada juga yang dengan santainya masih duduk-duduk di dalam ruangan kelas; sekedar untuk berbincang.

Marwan termasuk siswa yang ingin cepat pulang, sekaligus siswa yang ingin masuk sekolah lebih siang. Baginya, berlama-lama di sekolah hanya akan merenggut masa remajanya. Kilahnya, sekolah tak akan membuatnya jadi tambah pintar, kalau hanya sekedar duduk mendengarkan. Marwan selalu suka dengan pengalaman baru di luar sekolah, sesuatu yang baginya lebih menantang.

Marwan pernah pergi ke Yogja bersama dua kawannya, hanya bermodalkan ibu jarinya yang diangkat ketika ada truk hendak melintas. Untuk makan, Marwan mengandalkan suaranya yang agak merdu disertai tepukkan tangan kedua kawannya. Marwan juga sempat babak belur setelah ikut tawuran demi mempertaruhkan nama baik geng sekolahnya. Ia juga sempat masuk rumah sakit akibat iseng ikut balapan, padahal ia baru belajar mengendarai sepeda motor. Dan yang paling dramatis sekaligus traumatis, Marwan sempat dicaci maki di depan umum oleh orang tua Amelia, karena ia tak bercermin ketika hendak mencintai.
***

Di selasar mesjid sekolah, Aji sedang sibuk menggunting kertas yang sudah terpola bersama enam kawannya –dua laki-laki, empat perempuan. Mereka sedang menyiapkan acara lomba bernyanyi lagu islami untuk esok hari. Lomba itu merupakan terobosan baru, karena lomba yang sebelumnya sudah direncanakan, tak ada seorang pun yang daftar; yaitu lomba tahfid dan lomba ceramah. Lomba bernyanyi lagu islami pun hanya baru ada dua peserta saja.

Aji sebagai ketua remaja mesjid di sekolahnya, sebenarnya enggan untuk mengadakan lomba-lomba semacam itu. Selain karena harus repot-repot menyiadakan segalanya, tapi juga karena selalu kemiskinan peserta. Karena acara semacam itu sudah menjadi anjuran dari sekolah, Aji pun melaksanakannya tanpa gairah.
***

Adzan subuh menggema di daerah Buahbatu. Amalia dengan sigap terbangun, lalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dibasuh wajahnya dengan air yang mengucur dari kran, lalu dibasuh juga kedua tangannya sampai melebihi dua jari dari sikutnya, diusap kapalanya yang langsung disambung ke kedua telinganya, dan diakhiri dengan dibasuh kedua kakinya hingga di atas mata kaki. Setelah memakai mukena, Amalia pun menghadap kepada sang Pencipta.

Saat matahari mulai muncul, Amalia sudah tiba di sekolah. Ia sedang sibuk menyiapkan lomba membaca puisi untuk siang harinya. Puisi-puisi pilihan hasil karya orang ternama diprint out, lalu Amalia menyiapkan makanan untuk para juri.

Jarum jam yang melekat di lengan kirinya sudah menunjuk ke angka delapan, Amelia pun duduk sebentar untuk beristirahat di depan kelas, terlebih karena pekerjaannya memang sudah selesai. Saswa-siswi berlalu lalang melewatinya, karena hari itu memang sedang tidak ada jam pelajaran. Lalu melintas seseorang yang mencuri perhatiannya, karena orang tersebut masih menggendong tas; petanda bahwa orang itu baru datang dan sangat suka sekali kesiangan. Meraka pun beradu tatap, sebelum akhirnya Amelia memalingkan mukanya.

Beberapa lomba sudah dimulai; dari mulai melukis, menulis cerpen, sampai lomba lari maraton. Setiap lomba yang diadakan tak kurang dari 10 peserta, kecuali lomba bernyanyi lagu islami. Amelia mengintruksikan ke beberapa temannya  agar lomba membaca puisi pun segera dimulai. Setelah intruksi itu, ia pergi ke tempat lomba bernyanyi lagu islami.

Sejak kecil, Amelia memang suka sekali bernyanyi, menyanyikan lagu apa saja yang nadanya cocok dengan kapasitas suaranya. Ketika sudah dewasa, ia bernyanyi hanya sesekali saja di kamar mandi. Suaranya memang terdengar merdu, apalagi untuk ukuran orang yang tak pernah latihan vokal. Situasi hidupnya memang tak begitu memedulikan keindahan suara, ia baru bisa menunjukkannya ketika ada lomba semacam itu.

Amelia duduk di kursi peserta lomba bernyanyi lagu islami, lalu di sebelahnya ada Manda yang bernasib sama. Tak berselang lama, Aji datang, lalu berucap, “tunggu yah, sebentar lagi. Kita kekurangan satu peserta lagi.”

“Memangnya yang daftar cuman kita berdua?” kata Manda sambil melirik ke Amelia.

“Iya. Sedang juaranya sampai 3, maka kurang satu orang lagi.”

“Kakak saja. Kan bagaimana pun jeleknya suara kakak, tetap akan menjadi juara 3.”

“Aturannya, panitia tidak boleh mengikuti lomba yang sedang diurusnya.”

“Kalau kurang satu orang lagi, apa lombanya tidak akan jadi?”

“Sepertinya. Aturan dari sekolahnya begitu. Kalau tak keberatan, bantu kami untuk mencari satu peserta lagi.”

Mereka pun terdiam, lalu melihat sekeliling seperti sedang mencari mangsa. Hampir seluruh siswa sudah mengikuti lomba yang mereka kehendaki, selebihnya sibuk menjadi juri.

Amelia ingat kepada lelaki yang suka kesiangan itu, dan kemungkinan besarnya lelaki itu belum mengikuti lomba apa pun. Namun untuk membayangkannya saja, Amelia enggan jika ia sendiri yang membujuk lelaki itu sambil memelas. Amelia pun menyuruh Aji untuk mendatanginya.

Namun Aji juga tak berani bila bernegosiasi sendiri. Katanya, Marwan baru akan luluh jika dibujuk oleh seorang perempuan. Mau tak mau, Amelia pun ikut mencari Marwan.
***

Setelah tiba di sekolah, Marwan masuk ke kelas cuman untuk menyimpan tas, lalu pergi ke kantin bersama dengan dua temannya. Kantin terletak di belakang kelas, dan itu merupakan tempat yang aman untuk bersembunyi dari kemeriahan dan lalu lalang orang. Marwan memesan kopi kepada Pak Tisna, penjaga kantin, lalu sesekali menghisap rokok yang disulut oleh Pak Tisna; supaya tak ketahuan kalau Marwan dan teman-teman suka juga merokok di situ. Bila siswa lain datang, rokok itu dihisap oleh Pak Tisna.

Berselang beberapa lama, Aji dan Amelia datang ke kantin, dan membuat Marwan sedikit kaget sekaligus cemburu tak bertuan. Marwan pura-pura acuh dan seolah tak melihat apa pun.

“Wan, tidak mengikuti lomba apa pun?” tanya Aji yang sudah berada di pinggirnya.

“Tidak.” jawab Marwan singkat.

“Bisa membantu kami tidak? Kami kekurangan satu peserta lagi. Sudah bisa dipastikan minimalnya kau akan menjadi juara 3, lalu mendapat hadiah.”

“Lomba apa?”

“Bernyanyi lagu islami.”

Marwan terkekeh.

“Kenapa?” tanya Amelia dengan nada sinis.

Sejenak Marwan memandang wajah Amelia, yang bagaimana pun, ia mengagumi kecantikan dan keanggunannya. “Tidak apa-apa. Heran saja, ternyata hal-hal yang islami itu sepi peminatnya, walau dalam nyanyian sekalipun.”

“Dan kau pun puas menertawakan kami?” timbal Amelia dengan nada menekan.

“Maaf, tapi memang menyenangkan jika menertawakan orang lain.” jawab Marwan disertai tawa jahat. Setelah itu hening untuk beberapa saat.

“Jadi kau tak bisa membantu kami? Ya sudah, kami cari yang lain saja.” ujar Aji mencoba melerai.

“Nanti, jika kami sudah bertaubat, baru akan membantu kalian.” jawab Marwan dengan tawa yang sama, yang lalu tawa itu diikuti oleh kedua sahabatnya.

Aji membalikkan badan hendak kembali, tapi Amelia masih mematung di tempatnya sambil memandangi wajah Marwan. Wajah Amelia memerah, karena amarahnya sudah tersulut. Napasnya naik-turun tanpa terkendali, tangannya dibulatkan begitu erat. Sesekali Marwan mengerlingkan matanya dengan was-was, tatapan penuh kewaspadaan.

Aji mencoba untuk membujuk Amelia agar segera kembali, dan berharap ada orang lain yang bersedia membantunya. Namun Amelia masih mematung, tak mendengar semua ucapan Aji. Tak disangka sebelumnya, air mata Amelia megalir perlahan di pipinya, dengan wajah yang masih memerah. Semua menatapnya dengan terpana. Marwan dan kedua sahabatya terdiam disertai rasa bersalah. Aji mamatung tanpa tau harus berbuat apa. Pak Tisna pun hanya bisa menonton, seolah ia sedang menyaksikan adegan peradegan dalam sinetron.

Saat semua sedang kebingungan dengan misterinya sendiri, mendadak Amelia berlari sambil mengusap air matanya oleh kedua tangannya; berlari ke arah toilet. Adegan yang dramatis, begitulah komentar Pak Tisna tanpa diucapkan agar tak merusak suasana. Untuk beberapa saat, yang tertinggal pun masih berada dalam kebisuan.

“Wan, jika bukan karena pihak sekolah, kami tak akan ke sini dan memohon bantuanmu. Dan kami pun mau menjalani ini hanya karena kami anggap ini hanya sabagai tantangan.” ucap Aji memecahkan kesunyian. Sebelum berpaling dan pergi, Aji berucap kembali, “Tertawailah kami sepuasnya.”
***

Manda menunggu dengan resah. Sepertinya mimpi untuk menjadi juara 1, atau paling tidak menjadi juara 2, harus ia kubur dalam-dalam dalam angannya. Ia harus belajar berbesar hati, jika piala yang ia harapkan sedari tadi, harus musnah begitu saja. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja, sesekali mulutnya pun komat-kamit berdoa, agar siapa pun ada yang mau menjadi peserta ke 3.

Aji kembali seorang diri dari belakang kelas. Manda kaget tak kepalang dan langsung mengintrogasi Aji tentang apa saja yang terjadi. Dan yang terpenting, Manda menanyakan apakah lombanya akan dilangsungkan atau tidak. Aji membalas semua pertanyaan Manda dengan senyuman kecut.

Manda murung, lalu duduk tanpa gairah, begitu pun dengan yang lain. Saat kemurungan itu sudah berada di puncaknya, tiga sekawan datang dari belakang kelas. Seperti ada magnet tersembunyi, semua orang yang sedang berada di halaman sekolah itu, memandang terlebih dulu kedatangan tiga sekawan itu yang berjalan ke arah tempat lomba beryanyi lagu islami. Tanpa banyak basa-basi, ke tiga sekawan itu pun mendaftar, dan membuat orang-orang yang menyaksikannya tercengang.

Orang yang pertama berteriak adalah Manda, seolah ia ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa doanya dapat terkabul juga. Tanpa sungkan Manda pun menari terlebih dulu di depan orang-orang. Sedang yang lain masih memandang tiga sekawan itu dengan heran.

“Kapan lombanya akan dimulai?” tanya Marwan kepada Aji.

“Nanti sebentar lagi, menunggu satu peserta lagi.” jawab Aji ramah.

Berselang beberapa lama, Amelia masih juga belum terlihat. Aji mengintruksikan agar lombanya segera dimulai saja, sambil menunggu kedatangan Amelia; karena ditakutkan ketiga sekawan itu berubah pikiran. Manda yang pertama naik panggung, dan dengan latihan yang cukup, ia dapat memukau penontonnya.

Setelah Manda selesai bernyanyi, Amelia masih juga belum nongol. Sekarang giliran Marwan yang naik ke atas panggung, dan menghipnotis semua yang sedang berada di lapang, untuk sejenak melihatnya. Sebelum bernyanyi, Marwan berkata-kata terlebih dulu, dengan maksud untuk mengusir keheranan para penonton yang merasa keganjilan.

“Dulu, sewaktu saya awal masuk SMA, saya berpikir, menjadi orang nakal itu sangat menantang. Dimarahin guru, dibentak orang tua, bahkan dikejar-kejar oleh polisi. Tapi sekarang dunia sudah berbeda. Orang yang banyak ditertawakan sekarang adalah orang yang suka ke mesjid, orang yang berniat untuk menjadi baik. Maka dari itu, saya dan teman-teman hendak berubah. Saya rela menjadi bahan tertawaan orang, karena itu jalan hidup saya dari dulu.”

Tak disangka, orang-orang yang menyaksikan pidato singkat itu bertepuk tangan dengan begitu bergemuruh. Bahkan ada siswa yang berpendapat bahwa pidato Marwan lebih baik dari semua pidato Kepala Sekolah tiap hari senin. Marwan pun langsung bernyanyi, lagu islami yang ngepop. Karena Marwan sempat mengamen saat pergi ke Yogja, maka suaranya tak fals-fals amat, bahkan mengundang kekaguman yang sesaat.

Amelia mengintip kejadian itu dari balik jendela kelasnya. Walau hatinya sudah tak begitu teriris, tapi tetap ia masih enggan untuk keluar kelas.
***

Lomba bernyanyi lagu islami sudah diumumkan; Wanda menempati juara 1, Marwan juara 2, dan Anggi juara 3. Amelia sudah mendeklarasikan kemundurannya dari lomba tersebut saat Aji mendatangi kelasnya. Marwan menghampiri Amelia setelah diberitahu oleh Aji dimana ia bersembunyi.

Merwan masuk ke kelas Amelia, dan menemukan ia sedang duduk di kursinya; di pinggir jendela barisan tengah. Perlahan Marwan pun masuk, lalu duduk di bangku barisan yang berada di pinggirnya.

“Maaf, atas kejadian tadi siang.” ucap Marwan basa-basi.

“Justru saya bersyukur, bila akhirnya kau mau berubah.”

“Mau kan, kau membantuku untuk itu?”

“Apa karena ini, kau mau berubah?”

“Karena itu, manusia juga bisa melakukan apa saja.”

Sejenak Amelia terdiam. “Cinta pada sesama manusia itu teramat lemah.”

“Cinta memang punya kelasnya sendiri. Paling tidak, kita bisa berteman.”

Mereka pun terdiam, seolah bersepakat pada perjanjian entah berantah. Marwan menyerahkan tropi dan hadiah dari lomba bernyanyi lagu islami, seolah ia ingin mengatakan bahwa Amelia lah yang berhak menerima itu. Marwan kembali keluar tanpa kata, sedang Amelia masih bisu dengan dunia yang diciptakannya sendiri.


Komentar