“Sepertinya kita
sudah tertipu oleh kebahagiaan.” ujar Obet kepada Acuy. Mereka sedang duduk di
sebuah saung butut, tempat mereka dulu sering berkumpul. Saung itu terletak di
ujung kampus, di atas tanah gambut yang menumbuhkan banyak ilalang.
“Kita memang membutuhkan
kebahagiaan.” jawab Acuy, singkat. Obet dan Acuy sudah dua tahun jadi sarjana,
tapi sesekali mereka masih suka bertemu di kampus.
“Apa kau kira,
dulu kita ini tak bahagia?” tanya Obet, retoris.
Acuy merenung,
mengenang-ngenang kembali masa itu.
***
Waktu awal-awal
masuk kuliah, Acuy masih menganggap bahwa menjadi kutu buku adalah hal yang
paling menjijikan. Selain karena buku yang bisa membuatnya pusing dan
mual-mual, tapi juga karena Acuy memandang si Kutu Buku adalah orang yang norak
sekaligus tak mampu bergaul dan merias diri. Acuy percaya, dengan tak banyak
membaca buku, apalagi menghapalnya, ia pun bisa kaya.
Namun selama
matahari masih terbit di sebelah timur dan nyawa masih dikandung badan, manusia
bisa berpindah haluan. Jangankan hanya haluan, kepercayaan pada Tuhan pun bisa
berubah.
Sore itu Acuy
diajak oleh kawan sekelasnya untuk menemui salah satu dosen. Acuy antusias
karena dijanjikan bakal ada banyak makanan. Setibanya di rumah dosen itu, Acuy
melihat ada sebuah tulisan yang terpangpang di depan gerbang: Yang Berkunjung
ke Sini Wajib Membaca Buku.
Acuy
celingak-celinguk sambil tersenyum masam. Paling tidak, untuk kali ini saja aku
membaca, pikirnya.
Seusai kawannya
berbicara dengan dosen, Acuy diajak menuju salah satu ruangan. Di sana banyak
sekali buku, termasuk juga makanan dan minuman. Acuy kebingungan antara harus
senang atau malas.
“Silakan kau
pilih buku yang kau suka. Setelah itu baca sampai kelar.” bisik kawannya. Acuy
menggigit bibir. “Sampai kelar? Kau sedang tak gila, kan?” raungnya dalam hati.
Acuy pun mulai
memilih dan memilah buku. Tentu yang paling tipis dengan caver yang menggoda.
Ia susuri dari satu sudut ke sudut lain, sambil berharap menemukan sebuah
komik. Walau agak tebal, paling tidak komik bisa dibaca dengan cepat -atau
hanya dilihat gambarnya-, dan tentunya tidak akan membuat Acuy pusing dan
mual-mual. Namun sayangnya, Acuy tak menemukan sebiji pun komik. Hingga
akhirnya ia mengambil beberapa buku yang baginya cukup lumayan tipis, yang
nantinya akan ditimbang kembali salah satu di antara ketiganya.
Ketiga buku yang
diambil Acuy itu adalah Bukan Pasar Malam
karya Pramoedya Ananta Toer, Corat Coret
di Toilet karya Eka Kurniawan, dan Di
Bawah Lindungan Kabah karya Hamka. Acuy mulai mengamati ketiga buku
tersebut, melihat-lihat bagian belakangnya, hingga melihat berapa jumlah
halamannya.
Acuy mulai
dilema. Ingin sekali ia memilih yang tertipis, tapi caver dan beberapa
ulasannya baginya tak menarik. Ia ingin membaca yang baginya sesuai dengan
karekternya, tapi konsekuensinya agak lebih tebal ketimbang kedua buku lainnya.
Acuy memegang keningnya, benar-benar kebingungan.
“Mau pilih buku
saja galaunya sampai segitu. Gimana kalau mau calon istri?” komentar kawannya
Dengan spontan
Acuy mengembalikan dua buku ke tempatnya, dan mulai memabaca buku karya Eka.
Satu menit, dua
menit, tiga menit, tak ada reaksi apa-apa. Hingga menit ke sepuluh, keningnya
mulai mengkerut. Menit ke dua puluh lima: “Gimana sih, ini ceritanya ngawur!”
Menit ke tiga puluh lima: “Gila. Eh, di toilet kampus kita banyak coretannya
gak?”. Menit ke empat puluh lima: “Dasar. Emang gak tau diuntung!” Menit ke
lima puluh lima: “Yang gitu aja kok diceritain. Di kampus kita siapa penghuni gudangnya?”.
Menit ke enam puluh lima: “Aneh! Dia waras enggak yah?.” Menit ke sembilan
puluh lima: “Lho, kok gitu akhirnya?” Menit ke seratus sepuluh: “Kok, habis.”
Mulai sejak itu,
Acuy mulai suka membaca buku. Tentu saja buku-buku yang menyenangkan hatinya,
meliarkan imajinasinya, dan menertawakan dunianya. Saat sedang asyik membaca,
Acuy tak mengenal tempat dan waktu; dimana pun, kapan pun.
Hingga ia
bertemu Obet.
“Suka baca karya
Pram juga?” sapa Obet kepada Acuy yang sedang khusu membaca di pinggir tangga
kampus. Acuy sebentar melirik. Apa pertanyaan itu butuh jawaban?, kalau perlu,
jawaban yang pas apa?, pikir Acuy.
“Pram memang
orang yang sangat hebat.” Lanjut Obet sambil duduk di sebelahnya. “Orang-orang
macam kita sangat sulit untuk menandinginya.”
“Kebetulan saja
sedang baca Pram.” Sela Acuy. “Aslinya aku suka Pidi Baiq.”
“Pidi Baiq juga
tak kalah menakjubkanya. Parodi-parodinya segar dan dalam.”
“Aku hanya suka
membacanya. Gak ngerti yang lain-lain.”
Perkenalan
mereka pun berlanjut hingga Acuy sering menginap di indekosnya Obet. Obet punya
koleksi buku yang cukup banyak, cukup untuk membuat Acuy tak keluar kamar
semingguan. Obet yang melayani kebutuhan biologis Acuy; membelikan makan dan
minum ke warung terdekat. Mata Acuy sudah mulai bengkak dan merah, namun ia
malah semakin bergairah. Tak jarang saat sedang membaca, air matanya keluar,
namun ia segera menyusutnya dan melanjutkan membaca.
“Sepertiya
membaca sudah membuatmu gila.” sindir Obet. Acuy tak menggubris, ia terus saja
membaca.
Acuy sudah mulai
menyisihkan uang jajannya untuk membeli buku, hal yang sebelumnya ia anggap
sinting. Dan lama-kelamaan membeli sudah buku menjadi prioritas kedua setelah
rokok. Ia sudah tak memikirkan apa pun lagi selain buku dan rokok. Baginya,
kebahagiaan ada di kedua barang tersebut. Acuy hanpir tak pernah membeli kopi
selama numpang di indekosnya Obet, karena Obet selalu punya stok yang banyak.
Rerata orang
yang suka membaca selalu asyik jika diajak diskusi, namun Acuy berbeda, ia
hampir tak mau diskusi kalau bukan karena terpaksa, yakni saat presentasi
kuliah saja. Ia suka sendiri, dan dalam berpikir pun, ia suka menyendiri. Lain lagi
dengan Obet, bahkan ia membuat klub diskusi di kampusnya. Sesekali Acuy suka
datang ke tempat klub diskusi yang dibuat oleh Obet, hanya untuk mendengarkan,
dan duduk di barisan paling belakang. Mereka biasa berdiskusi di saung butut di
atas tanah gambut pinggir kampus yang sisi-sisinya banyak ilalang.
Namun dunia
dapat berubah seketika. Kecintaan Acuy pada buku berhenti saat ia sudah mulai
mengenal game. Kebiasaan siang-malam yang awalnya untuk membaca buku, kini
diganti dengan hanya duduk di depan laptop dengan mause di tangan kanan. Misi
gamenya membunuh-bunuh monster, dan ia sendiri pun berperan sebagai monster.
Perkenalan Acuy
dengan game bermula saat ia sudah mulai putus asa karena tak kunjung mendapat
kerja, sedang ia sudah jadi sarjana. Ia menyadari kembali, buku tak bisa
membuatnya kaya, bahkan untuk mendapat pekerjaan sekali pun. Memang Acuy sempat
menyadari, kalau suka membaca seharusnya ia pun suka menulis atau berpidato,
paling tidak ia bisa jadi jurnalis atau jadi orator ulung yang suka mengisi
kajian-kajian. Acuy meninggalkan dunia baca, dan main game adalah pilihannya.
Baginya, itu lebih realistis dengan keadaan lingkungannya. Ia dapat bersombong
jika berhasil membunuh monster lebih dari sepuluh.
Sebenarnya
hampir tak ada yang berubah dari hidup Acuy selain berpindah dari buku ke game.
Waktunya yang luang, ia habiskan untuk bermain game, dan ia hampir selalu lupa
makan dan beli baju. Sedang untuk membeli rokok, ia masih mengemis-ngemis
kepada orang tuanya.
Sedangkan Obet
berpindah dari buku ke internet. Buku adalah cerita lama sedang internet adalah
cerita baru. Lewat internet, Obet bisa membaca apa saja, sesuai hawa napsunya.
Lewat internet pun ia bisa sedikit merias diri dengan status-status panjang
yang menampakkan dirinya cukup berpendidikan.
Setelah setahun
diwisuda, Acuy dan Obet bertemu kembali. Nasib mereka tak jauh berbeda, masih
seperti gelandangan yang sedikit terurus; hanya saja Obet masih suka mengisi
kajian, walau referensinya bukan lagi buku, tapi dunia maya. Obet suka
menganalisis status teman-temannya, lalu dijadikan bahan kajian. Dalihnya,
memang dunia sekarang adalah dunia maya.
“Pemahaman
memang tak bisa membuat kita kenyang.” ucap Obet dipertemuan sore itu.
“Tapi main game
bisa membuat kita lupa bahwa kita sedang lapar.” timpal Acuy.
***
Menjelang tahun
kedua pasca wisuda, Acuy baru mendapat pekerjaan, walau baginya agak menapikan
jika disebut sebuah pekerjaan. Baginya itu hanya pengabdian. Menjelang magrib, Acuy
mengajar salah satu madrasah, mengajari anak-anak membaca Quran. Tentu gajinya
tak seberapa, tapi cukup untuk membuat orang tuanya tersenyum.
Setelah mengajar
dan mulai bisa hidup agak mandiri, kegiatan maen game Acuy sedikit dikurangi.
Di sela-sela waktunya, Acuy suka berkelana. Dari gajinya yang sedikit itu, ia
sisihkan untuk pergi ke perkampungan-perkampungan. Ia melihat bagaimana petani
desa bekerja; dengan cucuran keringat, hasil tak seberapa, tapi masih bisa
tertawa. Acuy mulai kembali menemukan sedikit gairah.
Melihat Acuy
sudah bisa bekerja, orang tua Acuy mulai mendorongnya untuk segera menikah.
Jelas baginya ini masalah, karena sejauh ini, tak ada tanda-tanda baginya untuk
segera menemukan jodoh. Memang Acuy sempat mendekati beberapa orang perempuan,
dan reaksinya hampir selalu sama; katanya Acuy terlalu baik untuk mereka. Acuy
ingin sekali menjambat-jambak mukanya sendiri.
Hingga Acuy
bertemu kembali dengan Obet di saung butut pinggir kampus.
***
“Keadaan yang
menuntut kita beranjak dari satu kebahagiaan ke kebahagiaan lain.” jawab Acuy,
kalem.
“Kita sudah
egois karena yang kita kejar hanyalah kebahagiaan. Kita membaca karena kita
bahagia. Hanya untuk kepuasan diri sendiri. ”
“Jadi? Seharusnya
apa yang mesti kita perbuat?”
“Kita harus jadi
orang gila. Jadi orang waras itu susah, banyak maunya. Mari kita ke tempat
sampah, dan memakan apa saja yang ada di dalamnya.”

Komentar
Posting Komentar