Mak Karmah duduk terpekur di depan
saung bututnya. Ia lebih suka menyebutnya sebagai saung tinimbang rumah, begitu
pun para warga yang lewat atau yang sengaja bertamu. Hari ini ia sudah
menyelesaikan segala pekerjaannya yang patut ia kerjaan, maka tinggallah
sekarang ia menantikan malam dengan melamun di depan saungnya.
Tadi pagi ia sudah pergi ke ladang;
sekedar memungut rumput-rumput liar yang bisa saja mengganggu tanaman
palawijanya, memberi pupuk organik, dan memanggul sedikit kayu bakar agar nanti
malam tungkunya dapat mengepul. Tadi siang pun ia sudah pergi ke sumber air
untuk membersihkan tubuhnya yang keriput, memcuci perabot dan pakaiannya yang
tinggal beberapa helai lagi, dan pulangnya menjingjing sekompan air.
Di depan saung Mak Karmah
sebenarnya tak ada apa-apa; selain pohon-pohon, sungai dan bukit yang tiap hari
ia saksikan. Namun tiap sore Mak Karmah menatap itu semua dengan nanar, seolah
semuanya memberikan pesan sesuatu.
Ketika Mak Karmah masih bocah
ingusan, tempat yang didiaminya sekarang merupakan hutan belantara; hanya para
pemburu saja yang berani menginjakkan kakinya di atas tanah ini. Mak Karmah
hanya berani bermain sampai perbatasan dengan sungai kecil. “Bila kau
berani-berani ke sana, nanti ada Kolongwewe yang akan menculikmu, lalu
memakanmu.” begitu ancam para orang tua, juga kakak-kakaknya. Mak Karmah dan
bocah ingusan lainnya pun tak berani bermain lewat sungai kecil itu.
Keadaan berubah ketika Mak Karmah
sudah menjadi gadis, dan mulai menjadi incaran para lelaki. Penduduk bertambah,
maka kebutuhan pun bertambah. Warga pun mulai membuka lahan-lahan baru. Yang
tadinya hutan menjadi ladang, yang tadinya ladang menjadi rumah. Tak sedikit di
antara mereka juga yang menjual ladangnya ke orang-orang baru, yang berasal dari
kota; dengan alasan untuk biaya sekolah anaknya dan mereka tinggal membuka
lahan lagi di hutan. Ladang-ladang yang dijual itu berubah menjadi vila-vila
yang ditempati hanya setahun sekali.
***
Sewaktu gadisnya, Mak Karmah
menjadi incaran banyak pemuda. Semuanya petani, dan semua berani mati demi Mak
Karmah. Ada yang tinggal satu kampung dengannya, ada yang tinggal di desa
tetangga sebelah utara, ada juga yang tinggal di desa tetangga di sebelah
selatan. Sedang sebelah barat dan timurnya masih rimbun oleh pepohonan.
“Mekar, nanti malam akan ada
pertunjukkan wayang golek di Balai Desa. Mau kah kau ikut menonton denganku?” Rayu
salah satu pemuda yang sekampung dengannya, dan entah dari mana usulnya memangggil
Mak Karmah dengan Mekar.
“Maaf, saya tak berani keluar
malam-malam sendirian, Kang.” tolak Mak Karmah halus.
“Nanti akan saya ajakkan Sari untuk
menemanimu, bagaimana?”
“Orang tua saya tak mengijinkan,
Kang. Maaf.”
Karmah terkenal dengan gadis yang
tak mudah ditaklukkan. Semakin bersikeras ia, maka semakin penasaran
orang-orang kepadanya.
Tiga orang pemuda tertolak
mentah-mentah. Selain karena Karmah merasa dirinya masih belia, tapi juga
pemuda-pemuda itu baginya tak cukup punya etika untuk menyampaikan rasa
cintanya.
Semakin matang, Karmah semakin
dipuja orang. Karmah tak hanya mendapat rayuan gombal lewat surat-surat, tapi
juga mendapat gangguan saat malam tiba; kata orang tuanya, itu pelet. Karmah
semakin dijaga ketat oleh orang tuanya, bahkan sempat sampai memanggil ustad. Ustad
itu hanya menasehati agar memperbanyak mengingat-Nya, karena hanya Dia lah yang
dapat menyembuhkan segala macam penyakit.
Karmah bukan keturunan bangsawan;
orang tuanya petani biasa. Kulitnya pun cokelat langsat, kulit yang selalu
tersinari matahari. Wajahnya sedikit ayu, wajah lazim khas pedesaan. Namun
Karmah hanya punya satu ketertarikkan, yakni tak mudah tergoda orang. Belum ada
seorang pemuda pun yang berhasil membujuk rayunya.
Beragam cara para pemuda itu untuk
menunjukkan rasa cintanya. Ada yang lewat surat, ada yang mengirimi bunga, ada
yang hanya lewat doa, ada juga yang berani sampai mendatangi rumah kedua orang
tuanya. Dan semua harapan itu, tak terbalas.
Sebenarnya Karmah sempat tertarik
kepada beberapa orang pemuda. Ia manusia biasa yang di dalam hatinya ada
bulir-bulir cinta. Namun keadaan belum menyatukan mereka. Kadang Karmah ingin
melihat seberapa jauh pengorbanannya, namun setelah Karmah memutuskan untuk
membalasnya, pemuda itu sudah menyerah dan berpindah haluan ke lain hati.
Kadang Karmah menyukai pemuda yang diam-diam suka meliriknya, menyempalkan nama
Karmah dalam doanya. Namun karena melihat betapa susahnya untuk mendapatkan
Karmah, ia pun bercinta hanya lewat doa dan Karmah tak kuasa untuk
mengungkapnya duluan. Kadang juga Karmah menyukai pemuda yang tak sedikit pun
meliriknya. “Ini hanya belum waktunya.” bisik Karmah di dalam hati.
Pemuda-pemuda yang memuja Karmah
mulai berguguran. Penantian dan pengorbanan ada batasnya. Kehidupan harus
berlanjut, dan kalau tak mendapatkan mutiara, emas pun tak mengapa, atau perak,
atau besi sekali pun.
Karmah kadung menganggap dirinya
mutiara, maka ia pun sangat rikuh jika harus mulai berbicara. “Kadang, mutiara
tak mesti ada yang memiliki.” begitu bisiknya.
Orang tua Karmah mulai
mengingatkan, bahwa tak selamanya ia akan hidup dan sanggup menghidupi Karmah.
“Lahan kita semakin sempit dan gersang. Kau harus segera mencari pasangan,
Neng!” nasihat Bapak Karmah.
“Jangan terlalu banyak pilih, Neng.
Toh tiap manusia ada baiknya, ada jahatnya.” Nasihat Ibu Karmah.
***
Matahari kian menepi ke Timur.
Bukit yang dulunya rimbun oleh pepohonan, kini sudah gersang oleh ladang.
Petani-petani hanya mengandalkan musim hujan untuk menumbuhi bebijian mereka.
Sumber air sudah sangat mengecil, hanya mampu memfasilitasi kebutuhan
sehari-hari, tidak untuk menyiram ladang; apalagi mengairi sawah.
Mak Karmah makin menatap nanar.
Orang tuanya sudah lama meninggal dan hanya meninggalkan ladang yang kini ia
tempati. Kakak-kakaknya merantau entah ke mana, dan kini ia sudah tak ingin
mengingatnya. Tentu ia tak punya anak, tak punya cucu untuk ditimang-timang.
Jikalau ia menyelesaikan semua
pekerjaan agak siang, Mak Karmah selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke
rumah Mak Sari, atau sebaliknya.
Rumah Mak Karmah dan Mak Sari
dibatasi dua ladang dan satu sungai kecil. Rumah Mak Karmah agak terpisah dari
perkampungan, karena rumahnya yang dulu di jual untuk menutupi biaya pemakaman
ayahnya, dan sisanya untuk membangun saung dan menyulam kehidupan. Sedang rumah
Mak Sari berada di ujung kampung, yang langsung berbatasan dengan sungai kecil.
Mak Sari merupakan satu-satunya
sahabat Mak Karmah yang masih hidup. Dari dulu mereka suka saling membantu, dan
tanpa ragu-ragu mereka pun saling meminta bantuan. Mak Sari sudah punya tiga
orang anak, dan lima cucu. Dua anaknya tinggal di desa tetangga, dibawa
mantunya, dan menjadi buruh tani. Satu anaknya yang masih tinggal sekampung
dengannya kerja serabutan; kadang jadi buruh tani kadang juga jadi penjaga
vila. Mak Sari pun kerja sendiri untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari,
sedang suaminya sudah meninggal.
“Beruntung kita ini, bisa hidup
sampai setua ini.” ucap Mak Sari di satu waktu.
“Teman-teman kita sudah tak
menyaksikan dunia sekarang. Tapi sepertinya kita akan segera menyusul.” balas
Mak Karmah.
***
Matahari sudah hilang di balik
bukit. Kini yang tersisa hanya pancaran warna jingga. Mak Karmah berbegas ke
dalam saung; mengambil cempor yang lalu menyalakannya dengan korek api.
Ia langsung bergegas ke dapur, ke
depan tungku. Masih ada beras untuk dimasak, daun singkong dan sambal terasi
sebagai lauknya, dan ubi jalar sebagai cemilan malamnya.
Sebelum tidur, ia tak lupa
memanjatkan doa kepada Tuhan. “Semoga besok air masih dapat mengalir jernih.
Tanamanku bisa tumbuh walau tanpa disiram. Dan matahari masih terbit.”

Komentar
Posting Komentar