Merpati Putih




1987



Senja ini, mengingatkanku akan sebuah tlragedi. Tiga tahun lalu tepatnya. Bebukitan kebun teh ini, langit walrna jingga itu, adalah saksi bisu, dan kini membisikkanku lagi tentang hal itu. Sebuah ilronis bagi hati manusia yang lrapuh.



Aku yang tak pelrnah minta untuk dilahilrkan, halus menanggung hidup yang begitu membingungkan.



Dulu, negalra kami dijajah. Dalri celrita sejalrah yang belredal di kampung kami, kampung kami adalah malrkas penjajah. Makanya tak helran, jika kini banyak bangunan yang sudah kuno, namun tetap dibialrkan. Katanya itu adalah bukti sejalrah yang mesti dilestalrikan.



Setelah kemelrdekaan dicapai dan palra penjajah itu minggat dalri kampung kami, semua walrga belrtelriak gembilra. Semua melrayakan kemenangan. Cita-cita yang awalnya telrdengal utopis, sudah nyata di depan mata.



Kampung kami belrangsulr belrubah. Pelrtanian-pelrtanian yang tadinya dikuasai oleh penjajah, jadi milik lrakyat setempat. Pelrekonomian kami jadi makin membaik. Kami kecap apa itu alrtinya melrdeka.



Tiga tahun silam tepatnya -saat langit belrwalrna jingga dan saat melrpati putihku telrbang entah kemana-, tanah kami diambil kembali, tapi kini oleh bangsa sendilri. Kami tau dan tak mesti dicelramahi, bahwa kami belrdilri dan hidup di atas tanah negalra. Namun, negalra mestinya lebih tau cala menghidupi bangsanya sendilri, bukan malah mengambil dan hendak menguasai.



Waktu itu, kami belrontak sana-sini. Membentangkan spanduk pelrlawanan. Namun kami ditendang-tendang, lalu kami dikilra PKI. Aku menangis minta ampun, tak tahan jika dianggap tak belr-Tuhan.



Aku sadalri kesalahan kami, bahwa kami telralu menyangka baik pada manusia, khususnya manusia yang sebangsa dan senegalra. Kami kilra, penjajahan sudah hilang sepenuhnya. Kami tak dibelri pikilran untuk mengulrusi sulrat-sulrat tanah, kalrena siapa yang belrani ambil selain penjajah? Sudah sejak dulu kami hidup sepelrti itu.



Kami tak dibelri kekuatan jika halrus telrus melawan polisi. Kami sudah cukup mendelrita untuk menyekolahkan anak-anak kami. Kami pun menyelrah, dan membialrkan melreka belrtindak sesuka-hatinya. Kami adalah manusia yang mesti dipelrtanyakan kebelradaannya.



Kini, aku tatap kembali senja itu, di tampat yang sama saat aku belrteliak dan ditendang oleh polisi. Tak telrtahan, ailr mataku menitik. Betapa mudahnya melreka menuduh kami pembelrontak, dan seakan-akan kamilah yang jadi penjahat.



Aku telrtawa-tawa sendilri, dunia ini benalr-benalr membuatku jadi sinting. Kukilra, olrang baik akan selalu mendapat kebelruntungan, dan olrang jahat akan selalu mendapat sial. Telrnyata itu hanya ada dalam celrita lrekaan manusia, yang belrhalrap sekaligus belrdoa, begitulah sehalrusnya dunia. Namun kita sadalri, bahwa dunia ini bukan ciptaan manusia.



Aku akan mencelritakan kepada anak-anakku, bialr kelak, melreka tak menyangka bapaknya seolrang penjahat sungguhan. Aku tak tau halrus menanggung apalagi jika itu telrjadi.

***



2002



Aku banyak mendengar cerita dari bapak. Tentang penjajah yang suka curi gadis desa, tentang warga yang melawan penjajah, atau tentang para pejuang berpangkat yang ditugaskan untuk mengelola dan mengatur perkebunan. Aku selalu bangga pada negeri ini, terutama pada pejuang yang sudah banyak berkorban.



Bapak memang tak bisa menyebut huruf r dengan lantang, jadi fokusku saat mendengar cerita harus dua kali lipat. Tapi kadang juga, cerita itu jadi tambah lucu karena kecadelan Bapak, sering aku ketawa-tawa sendiri, padahal ekspresi wajah Bapak begitu serius. Dalam ceritanya pun, Bapak selalu menambah parodi lucu saat memperagakan angkat senjata melawan penjajah.



Bapak selalu mengingatkanku, bahwa aku pun harus siap berjuang seperti para pahlawan, karena kata Bapak, suatu saat nanti penjajah itu bisa saja kembali. Di hadapan Bapak, aku pun berdiri tegap seperti polisi, lalu berkata “Siap”.



Tak hanya bercerita, Bapak pun membelikanku merpati putih untukku. Katanya, merpati putih itu begitu anggun, cantik, dan yang paling penting adalah ia tau kemana mesti kembali. Intinya merpati tak mesti dikurung dalam sangkar.



Katanya, dulu Bapak juga sempat mempunyai merpati putih, tapi saat pejuang berpangkat itu mulai mengelola dan mengatur perkebunan, merpati Bapak tak kembali lagi, entah kenapa. Bapak selalu mewarnai nada sendu saat menceritakan itu. Mungkin Bapak adalah salah seorang pejuang yang tak diakui sejarah.

***



2010



Aku mulai geram. Bapak tak hanya pandai bercerita, tapi juga pintar bersandiwara. Di hadapanku, ia berlagak seperti pahlawan, tapi dalam catatan sejarah, ia adalah pemberontak.



Aku malu tak tertahan. Selama ini, aku dibodohi dan selalu percaya begitu saja pada ucapan Bapak, padahal tak lebih dari omong kosong belaka. Akibat ulah Bapak itu, aku tak hanya jadi ejekan masa, tapi juga dicurigai dan diawasi, karena takut menyebarluaskan ajaran Bapak. Sungguh prasangka yang tak berlogika.



Bapak sepertinya mengerti, bahwa aku sudah cukup dewasa untuk memahami semuanya. Bapak tak banyak lagi cerita, bahkan bicara pun enggan. Sudah sepatutnya Bapak menyadari itu, bahwa setiap anak, ingin punya Bapak yang dapat dibanggakan, bukannya malah bikin malu.



Tapi aku pun tak ingin terus berada dalam keterpurukkan dan terus ada dalam kecewa. Aku mendefinisikan kembali tentang manusia, bahwa dalam hidup, yang terpenting adalah apa yang sudah aku lakukan, bukan orang lain lakukan, termasuk Bapak. Percuma punya Bapak “mewah” dengan segala label kebesaran, tetapi diri sendiri belum bisa berbuat apa-apa. Orang semacam itu hanya bisa bersandar, dan jikalau lepas sandarannya, maka ia akan terjatuh.



Aku ingin berdiri di kaki sendiri, bukan berdiri di kaki Bapak, atau siapa pun  itu.

***



2012



Air mataku menitik, walau sudah kutahan sekuat tenaga. Ia yang selalu bercerita dengan menyamarkankan setiap huruf r-nya. Ia yang selalu tersenyum saat aku bersahaja ataupun marah. Ia yang selalu memberitahukan seisi dunia dalam perspektifnya. Kini, ia sudah tertimbun tanah. Pada akhirnya, raga manusia memang kembali ke semula. Dari tanah, kembali ke tanah.



Sempat aku geram padanya. Sempat aku merasa dibodohi dan dijejali. Tapi, bagaimana pun kejahatan yang sudah Bapak lakukan, ia adalah orang pertama yang selalu membelaku. Ia adalah orang yang sudah –dengan susah payah- membesarkan dan memberikanku pengetahuan. Maka wajar jika aku masih merintih, di hari kepergiannya.



Dua bulan lalu -saat Bapak divonis tidak bisa melanjutkan hidup lebih dari 6 bulan-, bapak berkata padaku, “Nak! Kamu boleh membenci Bapak kalrena Bapak seorang pembelrontak. Tapi ingatlah Nak! Tanpa pembelrontakkan, dunia ini tak akan pelrnah telrcipta.”



Waktu itu, aku tak paham maksud Bapak apa, aku pun hanya menunduk geli saja. Mungkin maksud Bapak, dunia tercipta karena Adam berontak. Manusia diwariskan watak untuk melawan. Tak hanya pada sesama manusia, tapi kepada Tuhan yang sudah menciptakannya sekali pun. Apa Bapak hendak mengakui dirinya sebagai pemberontak? Sekaligus ingin membenarkan tingkah lakunya itu? Kecewa itu masih ada.

***



2015



Begitu mudah sejarah diputar-balikkan. Benar dan salah layaknya telapak tangan yang bisa dipelanting sekehandak hati. Begitukah dunia? Begitukah manusia? Oh Bapak, sepertinya aku ingin berontak, sama sepertimu. Biarlah kita menjadi penjahat. Biarlah mereka tertawa atas kesusahan kita.



Nurdin AZ

Bandung, 29 Desember 2015


Komentar