“Bahagia tak turun dari langit, tapi kita yang
menciptakannya.” ujar Murung kepada Ceria di bawah pohon jambu, di belakang
rumah Ceria.
Ceria bercerita kepada Murung kalau hidupnya tak seindah
teman-temannya yang bisa bermain ke mana pun mereka suka. Ceria tak bisa
terlalu jauh dari rumah karena neneknya perlu penjagaan dan adiknya selalu
minta diajari matematika selepas magrib.
“Tapi bagaimana caranya menciptakan kebahagiaan?” tanya
Ceria.
Sebenarnya Murung menyadari kalau ucapannya hanya omong
kosong belaka. Namun karena ia ingin kelihatan keren di depan Ceria, maka ia
pun membual. Dan Ceria, selalu percaya ucapan Murung, karena Murung selalu
punya cara untuk meyakinkannya. Paling tidak, Murung tak pernah mengingkari
janji selama ia ingat dan selalu ceria di depan Ceria.
“Bahagia itu tercipta dari keringat dan darah. Maka
berkeringat-keringat dan berdarah-darah lah!”
Sudah hampir dua minggu ini, Murung selalu memikirkan Ceria.
Ia tau sebabnya, karena Ceria cantik, walau agak sulit untuk tersenyum. Pernah
beberapa kali Murung memcoba untuk melucu, dan Ceria malah mengkerutkan kening
sambil menatapnya aneh. Murung pun menghentikan sifat jenakanya, dan mencoba
untuk bersikap bijak.
“Tapi teman-temanku, mereka hanya main-main saja, dan mereka
bahagia. Tetanggaku juga, mereka sudah tidak bekerja, tapi mereka tak pernah
kekurangan uang untuk membeli motor dan handphone baru.” jawab Ceria.
Ceria dikenal sebagai orang yang susah untuk dekat dengan
lelaki, karena hampir tak pernah tersenyum kepada lelaki, kecuali pada ayahnya.
Murung adalah satu-satunya lelaki yang terus bertekad kuat untuk mendekati
Ceria, bagaimana pun sikap Ceria kepadanya. Dan proses itu mengantarkan mereka
duduk berdua di bawah pohon jambu, di belakang rumah Ceria. Bahkan Ceria sudah
mau mencurahkan isi hatinya.
“Kamu percaya kan kalau bahagia itu hati yang merasakannya,
bukan raga?”
Setelah berucap begitu, Murung meringis dalam hati, dan
sebenarnya ia ingin melanjutkan: aku pun begitu, wajah bahagiaku hanya kedok.
“Tapi bagaimana caranya, keringat dan darah dapat membentuk
bahagia?”
Ceria adalah anak yang paling besar dalam keluarganya, dan
ia bukan terlahir dari keluarga yang dapat memanjakan segala keinginannya. Di
usia 15 tahun, Ceria sudah membantu ibunya berjualan, dan malamnya mengasuh
sekaligus mengajari kedua adiknya. Ceria sudah terbiasa bangun pagi, lalu
mengerjakan segala pekerjaan rumah, dan pada malam hari ia baru bisa
beristirahat. Hanya di hari minggu ia baru bisa agak bersantai, dan saat itu
timbul segala pikiran-pikiran irinya.
“Tak perlu ada cara, dan tak ada cara lain. Ia bekerja
dengan sendirinya.”
Dalam hidupnya, Murung punya banyak waktu untuk
berleha-leha. Waktu yang kosong molompong itu ia gunakan untuk bermain,
sesekali membaca novel tentang percintaan, atau mengikuti kegiatan-kegiatan
organisasi yang entah apa juntrungannya.
Ceria menatap Murung dengan tajam. Murung menunduk. Murung
menyadari kalau perempuan yang dihadapinya adalah perempuan tangguh, bahkan
lebih tangguh dari dirinya sendiri. “Kamu bohong, yah? Tau kan, kalau aku
paling tidak suka dibohongi!” lanjut Ceria.
Ceria memang tak suka bila terlalu dekat dengan lelaki, maka
ia selalu mengambil jarak. Ceria sadar, kalau dalam hidupnya tak ada yang bisa
dipamerkan, maka daripada nantinya ia yang dijauhi oleh lelaki, ia yang lebih
dulu memutuskan untuk menjauhi. Tapi Ceria tak menerapkan itu seterusnya kepada
seorang lelaki, karena ia juga percaya, bakal ada yang siap dengan segala
kondisinya.
“Aku tidak bohong. Dalam hal ini, yang ada hanya benar atau
salah; percaya atau tidak.”
Murung bukan orang kaya, tapi ia punya satu hal yang disukai
oleh wanita: bersilat lidah. Ia tau kapan waktunya untuk bercanda, merayu, atau
pura-pura bijak. Murung termasuk orang yang peka terhadap segala kondisi, dan
kebanyakan perempuan sudah merasa cukup dengan hal itu, termasuk Ceria.
“Maaf, untuk kali ini, aku tidak percaya.”
Murung mengangguk. Dari beberapa perempuan yang pernah ia
temui, baru kali ini ia merasa benar-benar kalah; dipecundangi. Murung
membayangkan bagaimana jadinya bila ia meneruskan tekadnya. Ia pun
menyimpulkan: akan memalukan dirinya sendiri.
“Ya sudah, aku akan pulang. Selamat berbahagia, Ceria!”

Komentar
Posting Komentar