Dalam waktu dekat ini, orang gila sering diperbincangkan,
bahkan dipermasalahkan. Soalnya agak rumit, karena kita tidak sedang
menyaksikan orang gila yang suka ketawa-ketawa sendiri dan jadi bahan ejekan
anak kecil. Kita menyaksikan orang gila yang agak lain, bahkan saya agak
sungkan sebenarnya untuk menyebutnya sebagai orang gila.
Pasalnya sebelum beredarnya kejadian ini saya menyaksikan
orang gila sebagai sesuatu yang unik, yang jadi penawar hampanya orang-orang
waras. Ya, saya menganggap orang gila sebagai alegori, guru sufi tanpa
pengakuan dan kehormatan.
Dalam cerita-ceritanya Eka Kurniawan, orang gila hadir
hampir selalu jadi tokoh utama, paling tidak saya menganggapnya begitu. Ajo
Kawir dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, hadir menjadi
sosok pemuda yang beringas namun tak sekali pun bertarung dengan ‘orang waras’.
Sebejat apapun ia, tapi ia tau siapa yang harus menjadi lawannya bertarung, dan
tentu diakhiri dengan heroisme yang agung: jalan damai dan maaf.
Pun demikian dengan Margio dalam novel Lelaki Harimau atau
Entang Kosasih dalam novel O. Eka Kurniawan menghadirkan sesosok manusia yang
cenderung gila dan beringas, namun punya lingkaran (batas) pertarungan.
Selebihnya kegilaan para tokohnya itu untuk ditertawakan, sembari kita sebagai
pembacanya, meraba-raba diri. Disaat seperti itu saya dibingungkan dengan orang
gila dan kegilaan, dan saya selalu bertanya kepada diri sendiri: jadi siapa
yang sebenarnya gila dalam menyikapi hidup ini?
Membaca Eka Kurniawan memang selalu menyisakan pertanyaan
atau pernyataan satire, semisal, setiap orang waras punya kegilaannya
masing-masing, dan setiap orang gila punya kewarasannya sendiri-sendiri. Di
sini makna orang gila dan orang waras menjadi bias. Begitu pun orang gila yang
dihadirkan Seno Gumira Ajidarma atau penulis lain, bahwa orang gila hadir untuk
menyentil orang-orang waras.
Beda halnya dengan orang gila yang kini sedang hangat
dibincangkan.
Saat saya masih kecil, saya selalu ketakutan ketika
berhadapan dengan orang gila, dan dipastikan saat itu saya akan lari. Dan
selama itu, orang gila itu tidak mau peduli kepada saya, kecuali hanya
memandang dan mungkin juga menyangka saya gila.
Orang gila memang selalu menimbulkan ketakutan, tapi
biasanya hanya sesaat. Namun kini agak lain. Orang gila menyerang orang waras
hingga tewas, dan informasinya selalu diulang dan seolah-olah ada yang
memutar-mutar kejadian itu hingga kita tidak bisa lupa begitu saja. Ternyata
ada juga yang suka memproduksi kemarahan dan mengolah ketakutan.
Puncak pertama terjadi aksi massa yang dibalut silaturahmi
akbar yang diselenggarakan di Monumen Perjuangan. Tentu bukan untuk orang gila,
karena itu terlalu berlebihan, tapi konon orang gila itu punya majikan. Siapa
majikannya? Bukan urusan saya.
Yang menarik dalam aksi 242 tersebut, saya teringat ucapan
Maxim Gorky dalam novel Pecundang di halaman yang tak kalah cantik, yakni 202, “Kehidupan
manusia dipersatukan bukan oleh kebebasan, tapi oleh ketakutan.”
Dan kenapa kita lebih suka membincangkan orang gila
tinimbang kegilaan diri kita sendiri?

Komentar
Posting Komentar