Tangan kiri dikepalkan ke atas. Tangan kanannya memegang toa
dengan erat. Ia berdiri di atas batu, di sudut kota yang tak begitu ramai,
namun membisingkan.
“Kita adalah manusia-manusia yang baru, yang dapat hidup
dengan cara yang berbeda.” Ia mulai berteriak-teriak, entah kepada siapa. “Jika
nenek moyang kita berburu dengan tombak di tangan, dengan napas yang
terpenggal-penggal, kita sudah bisa berburu dengan satu telunjuk saja, tanpa
mengeluarkan keringat setetes pun. Jika nenek moyang kita harus bertani untuk
bisa makan, kita cukup menjual tanah itu untuk dijadikan apartemen atau mall,
dan dari uang itu kita bisa makan.”
Satu dua ada orang yang melirik, yang lalu berjalan kembali
dengan acuh.
“Wahai manusia-manusia banal, dengarlah! Gedung-gedung
tinggi itu tidak akan cukup untuk menampung kalian semua. Jalan-jalan mulus itu
tidak ternikmani oleh kalian karena kalian hanya mampu berjalan kaki.
Taman-taman itu tak ada gunanya jika di rumah kalian tak ada sepincuk pun nasi.
Tapi percayalah, akan datang kepada kalian satu masa yang membahagiakan. Akan
datang kepada kalian seorang manusia yang mempunyai misi perjuangan. Maka,
ikutilah dia. Niscaya kalian akan berbahagia.”
Seorang kakek tua yang terusulut oleh ucapan ‘manusia banal’
mulai memerhatikan, lalu menggerutu: “Dasar anak jalang! Kau pikir dirimu
Yesus.”
Seorang pemuda yang berambut gimbal dan memakai kaca mata
tebal ikut memerhatikan, lalu ikut berkomentar sambil manggut-manggut:
“Sosialis sejati. Tapi barangkali, kita harus mencermati kembali langkah gerak
kita. Kau tau kan, di sini bukan tempat yang aman untuk segala macam wacana?
Bahkan untuk wacana teraman sekali pun bagi burung merpati.”
“Sodara-sodaraku sekalian.” Ia memulai berteriak-teriak
kembali. “Kita jangan pernah takut dengan segala macam ancaman. Manusia-manusia
yang takut mati adalah manusia yang tidak pernah tau kebenaran, dan bagaimana
harus menanggungnya. Hidup ini KEJAAMMM SODARA! Maka hidup tidak diperuntukkan
manusia-manusia lemah. Hidup hanya untuk manusia-manusia kuat. Kuat akan
prinsipnya.”
“Cungur ingusan tau apa!” gerutu si Kakek tua itu.
“Radikal, walau masih agak serampangan. Tapi, salut!” ucap
si pemuda berkaca mata tebal yang rambutnya gimbal itu.
Seorang pemuda lain ikut memerhatikan. Rambutnya klimis
dengan belah sisi. Kaca matanya tipis, setipis sisirnya. Jasnya harum, seharum
taman bunga. Ia mengeluarkan handphone keluaran terbaru, lalu membuka salah
satu akun media sosialnya, lalu mengusap layar yang bertuliskan “live”.
“Kita hidup di zaman yang serba dimudahkan.” Orator ulung
itu memulai kembali. “Mau belanja tinggal ‘klik’, mau cuci mata tinggal ‘klik’,
mau baca-baca berita tinggal ‘klik’, termasuk mau memenjarakan seseorang atau
membubarkan sekelompok orang. Begitu mudah hidup ini sekarang, katanya, kata
orang yang berkantong tebal. Tapi lihat diri kalian, Sodara! Pagi-pagi sudah
kena semprot bos yang sebenarnya tidak lebih giat ketimbang kalian. Pagi-pagi
sudah dihukum guru yang sebenarnya tidak lebih rajin ketimbang kalian. Ayolah
Bung, kita harus mulai belajar berani! Banci itu bukan manusia abu-abu, tapi
kalian yang tidak punya jiwa pemberani.”
“Ni bocah cari mati kayanya.” Gerutu si Kakek tua itu lagi.
“Revolusioer, tapi tidak ngilmiah.” Komentar pemuda berkaca
mata tebal yang berambut gimbal itu lagi.
“Ayo, ayo. Yang lebih menyulut amarah lagi!” bisik dalam
hati pemuda berambut klimis yang kaca matanya tipis itu.
“Sodara-sodaraku sekalian. Batu besar ini kelak akan menjadi
saksi. Saksi perjuangan kita. Saksi perlawanan kita. Kelak kita akan mati,
namun batu besar ini akan tetap berada di sini, merindukan orang-orang semacam
kita. Esok atau lusa, mungkin darah kita tidak akan mengalir lagi, tapi
semangat ini akan terus mengalir bersama anak cucu kita. Perjuangan akan selalu
ada. Perlawanan akan selalu muncul. Ingat sodara, hidup kita akan
dipertanggung-jawabkan.”
“Ni bocah bukannya kerja, malah ceramah.” Gerutu si Kakek
tua sambil berlalu.
“Lho kok jadi melow gini. Belum berbuat apa-apa selain
berkoar sudah merasa paling segalanya.
Sungguh tidak progresif!” komentar
pemuda berkaca mata tebal itu sambil berlalu.
“Ah, sudah tidak asyik lagi.” ucap pemuda yang berambut
klimis, sambil mengusap layar yang bertuliskan ‘selesai’.
Orator itu turun dari batu besar. Lalu mengambil kaleng yang
sedari tadi ia pajang sebelum memulai orasi. Ia memperhatikannya; ada kertas
dan ada juga recehan. “Lumayan lah, dari pada molongpong sama sekali” bisiknya
dalam hati, walau dalam hati kecilnya meringis kesakitan.
Yang lalu menjadi ramai adalah di akun media sosial si
pemuda yang berambut klimis dengan kaca mata tipis. Berbagai macam komentar
dilayangkan, bahkan satu komentar disanggah oleh komentar lain, pun begitu seterusnya.
Si pemuda berambut klimis menjadi idola baru, bagaimana pun komentar yang ada
di dalamnya.

Komentar
Posting Komentar