Bising
suara kendaraan, pekat kepulan asap. Orang berlalu lalang tanpa sapa. Kendaraan
mewah saling melintas.
Kota
terkenal dengan gedung-gedung mewah nan megah. Trotoar jalan dibikin eksotis.
Lampu-lampu dibikin menyala beraneka warna. Taman-taman dibikin untuk bercinta
para remaja. Elok sekali kota dalam raga, namun dalam jiwa?
Pagi
hari, Sarimin sedang mangkal menunggu penumpang. Menjelang siang, penumpang tak
kunjung datang. Dilihatnya angkutan umum berkali-kali menaikkan penumpang. Bus
Damri yang melintas pun, penuh sesak oleh orang-orang.
Sarimin
menanyakan jam berapa sekarang pada seseorang. Ia mengangguk mengucapkan banyak
terima kasih. Dengan penuh pertimbangan, Sarimin mengayuh becak mencari
penumpang. Dilihatnya jalanan indah penuh sesak oleh kendaraan. Knalpot bising
dan kepulan asap pekat, tak pernah ia hiraukan.
Sarimin
mendapati seorang wanita sedang menunggu resah. Dengan gerak tubuh penuh
santun, Sarimin sapa dan tawari jasa. Adu harga tak terelakkan. Sarimin mengalah
dan mensanggupi lobi wanita. Sarimin mengayuh becak lagi, di bawah terik sinar
matahari yang menyengat dan kepulan asap yang pekat.
Sore
hari Sarimin mangkal dekat pasar. Sarimin mendapat penumpang ibu-ibu dengan
belanjaan seabrek. Dipikul lalu dinaikkan belanjaan itu oleh Sarimin. Dengan
sisa tenaganya yang setengah, Sarimin mengayuh becak lagi. Ia usap lelehan
keringat. Ia tatap jalanan kota dengan penuh penghayatan.
Menjelang malam, Sarimin hitung pendapatan.
Hasilnya tak lebih dari Rp. 50.000. Sebagian ia simpan untuk anak istri.
Sebagiannya lagi ia belikan untuk nasi.
Nasi
bungkus beserta lauknya yang sederhana, ia bawa ke halte dan memakannya di
sana. Ditemani sorotan lampu-lampu yang berasal dari mobil mewah. Disaksikan
oleh nyamuk nakal dan sesekali mengganggu telinga Sarimin.
Sarimin
melepas lelahnya di halte. Menutup harinya dengan menyaksikan kota indah nan
megah. Cayaha yang beraneka warna, adalah keindahan mata.
Obet iri
pada teman-temannya, yang setiap berangkat sekolah, memakai kendaraan berroda
dua. Ia rasai kesalnya menunggu angkot, dan harus berjalan dari gang sekolah,
menuju sekolah yang berjarak 200 meter.
Obet
memberanikan diri untuk memintan motor kepada orang tuanya, namun jawabannya
adalah bentakkan dan pukulan. Obet tambah kesal dan tak tahan. Akhirnya ia
putuskan untuk melarikan diri dari rumah yang tak megah.
Obet
berjalan menyusuri jalan, tanpa arah dan tujuan. Obet, terus saja berjalan.
Berselang
beberapa lama, ia rasai perutnya mulai lapar. Ia sadar, disaku celananya tak
ada sedikitpun uang. Ia pun menjual HP jadul-nya, lalu makan sesukanya.
Menjelang
malam, ia mencari-cari tempat penginapan, tentu yang tak harus mengeluarkan
uang. Awalnya di depan toko beralaskan koran bekas, namun sewaktu bangun,
dimaki-maki oleh penjaganya. Lalu kolong jembatan, namun ia tak tahan dengan
baunya. Hingga akhirnya ia menemukan halte yang sudah tak berfungsi, dan
melewati setiap malamnya di halte itu.
Obet
mulai sadar, bahwa uang dari penjualan HP itu habis tak tersisa, kecuali
recehannya. Obet mulai berpikir, mencari cara supaya tetap bisa makan.
Obet
berjalan-jalan sekitaran toko. Perhatiannya penuh. Pengawasannya utuh. Dengan
sigap dan cepat, obet memungut satu HP yang jauh dari pemiliknya, lalu lari
sekencang-kencangnya.
Sontak,
pemilik HP itu berteriak dan telunjuknya mengarah ke arah Obet. Orang sekitar
yang melihat, lari tunglang-langgang mengejar Obet, penuh napsu untuk
menghabisi.
Obet tak
cukup mahir untuk bersembunyi, ia lari saja di tengah keramaian, dan terus
berlari membuatnya lelah. Obet menyerahkan diri, dikiranya bakal diampuni. Obet
duduk sambil membungkukan tubuhnya ke arah pemburu itu, petanda bahwa ia
benar-benar tak akan berlari lagi. Namun pemburu itu tak kenal ampun,
dihajarlah Obet sampai babak belur.
Dengan
tubuh sempoyongan, Obet kembali ke halte. Rasanya mati lebih baik. Ia pun
merebahkan tubuhnya di lantai halte.
Tukang
becak datang dengan nasi dan air ditangan. Ia melihat Obet sedang tak berdaya.
Sarimin pun mencoba membangunkan Obet. Dikasihnya air. Diusapnya setiap
benjolan, dan sebagiannya mengeluarkan darah. Setelah Obet cukup kuat untuk
duduk, Sarimin pun menawari makanannya. Mereka pun memakan sebungkus nasi
berdua. Mereka pun lalu berbincang-bincang. Sarimin mencoba menasehati Obet.
Esoknya,
Obet mulai mencari kerja, tanpa surat lamaran maupun fotocopy ijazah.
Mendatangi setiap toko, rumah makan, hingga ke pasar. Namun tak ada satu pun
yang mau mempekerjakan Obet. Akhirnya Obet memutuskan untuk mengamen.
Menghilangkan rasa malunya demi mendapat makan.
Kevin
jalan-jalan di trotoar jalan. Bajunya dekil dan celana compang-camping.
Rambutnya terurai panjang tak terurus, lebih mirip sarang burung golejra.
Kevin
selalu ceria. Senyumnya terus terurai mesra. Di pinggir jalan, Kevin mendapati
mobil-mobilan, lalu memainkannya tanpa penuh pertimbangan.
Kevin
memajukan mobil-mobilan itu dengan tangannya yang kurus kerontang. Ia begitu
bahagia. Sebuah dunia yang ditinggalkan oleh orang waras dewasa.
Kevin
kembali berjalan, sambil tetap memutarkan ban mobil-mobilannya oleh lengang
kanan dan dipegang oleh lengan kiri.
Kevin
sampai di perempatan. Ia pun menyeberang tanpa perhitungan. Ada orang yang
memaki-makinya dengan tuduhan cari mati. Namun Kevin tetap bahagia, ia malah
menertawakan orang yang marah tadi.
Setiap
Kevin mendekati orang, orang yang didekatinya menjauh. Orang-orang waras selalu
menjaga jarak dengannya. Kevin terus saja berjalan tanpa memikirkan orang-orang
tadi. Dengan penuh ceria. Dengan penuh gembira.
Kevin
mulai merasa lapar. Ia mulai memungut kantong plastik mana saja yang berserakan
di pinggir jalan, lalu membukanya. Mobil-mobilan yang dipegangnya tadi, ia
lemparkan, karena ia sadar sudah tak membutuhkannya. Yang ia butuhkan kini apa
saja yang bisa dimakan, tanpa peduli tanggal kadaluarsa maupun bersarang segala
kotoran.
Hingga
akhirnya ia mendapatkan satu kantong plastik yang berisi bala-bala dan gehu.
Dengan penuh semangat, ia pun makan tanpa perhitungan.
Setelah
merasa kecapaian berjalan, Kevin pun berbaring di trotoar jalan, dekat bak
sampah. Tanpa merasa risih, ia pun terlelap tidur. Orang-orang yang lewat,
hanya memandangnya iba.
Menjelang
magrib, saat Kevin masih nyenyak tidur, hujan turun. Kevin terbangun dan
memerhatikan apa yang terjadi. Kevin tersenyum terurai sambil menatap langit,
lalu berjalan mencari tempat teduh. Hingga akhirnya Kevin berteduh di halte,
lalu melanjutkan tidurnya di kursi halte.
Menjelang
tengah malam, Kevin dibangunkan oleh Sarimin dan Obet yang baru kembali. Kevin
membuka kedua matanya. Kevin pun tersenyum, merasa aneh pada kedua orang waras
itu yang berani mendekatinya. Sarimin dan Obet saling tatap, mereka baru
menyadari bahwa orang yang dibangunkannya bukan orang biasa, tapi orang gila.
Obet pun menempelkan telunjuknya pada keningnya, memberitahukan Sarimin bahwa
orang itu orang gila.
Setelah
sadar bahwa Kevin adalah orang gila, Sarimin dan Obet pun menjauh, menjaga
jarak. Kevin terbaring lagi, sambil memegang perutnya yang ia rasai begitu
lapar.
Sarimin
dan Obet sejenak diskusi, sambil memerhatikan penghuni baru halte itu.
Sarimin
kembali membangunkan Kevin. Setelah mata kevin terbuka, nasi bungkus dan air
dalam plastik kecil, ia sodorkan. Tanpa pertimbangan nasi bungkus itu Kevin
pungut, disertai deraian senyum yang tak pernah pudar, namun tanpa mengucap
terimakasih atau menganggukkan kepala.
Kevin
makan nasi bungkus seorang diri, di atas kursi. Sarimin dan Obet makan nasi
bungkus berdua, di lantai.
Mobil-mobil
mewah menyorotkan lampunya yang pongah. Kelap-kelip cahaya yang beraneka warna
tetap menjadi keindahan kota.

Komentar
Posting Komentar