Membaca novel ini memang nggak bisa grasa-grusu apalagi
sambil berlari, tapi harus duduk santai sambil minum kopi atau teh. Pasalnya,
beberapa saat anda harus meluangkan waktu untuk berpikir, merenung, lalu
tertawa ngakak -kalau ngerti, kalau enggak, ya baca aja lanjut.
Memang gampang saja menyelesaikan satu novel semalaman, tapi
untuk yang satu ini, saya sarankan tidak. Selain karena ditakutkan setelah
selesai kebingungan mau baca apalagi, tapi juga sebuah novel hakikatnya untuk
dinikmati, bukan dituntaskan lalu keheranan. Novel-novel Eka memang bebal, apalagi
yang seperti ini, yang ada tanda 21+, yang menunjukkan butuh pikiran dewasa
untuk mencernanya, gak bisa sembarangan.
Aris Kurniawan (dari Koran Tempo) mengomentari kalau
tokoh-tokoh dalam novel ini ‘tidak waras’, yang menjadi cermin ketidak-warasan
zamannya. Tentu saya punya pandangan lain, yang amat berlawanan, yakni tokoh-tokoh
yang dihadirkan dalam novel ini waras sewaras-warasnya. Memang bedanya setipis
alis antara yang waras dan yang tidak, kalau timbangannya subjektif.
Bagi saya, dalam novel ini (dan dalam novel-novel lainnya),
Eka Kurniawan memotret realitas dengan begitu vulgar, tidak mendayu-dayu.
Memang kekuasaan penulis mau melihat dunia dari sisi sebelah mana –kebanyakan penulis
melihatnya dari sisi romantis dan ideologis, dan Eka dengan keberaniannya menyuguhkan
dunia sebagaimana apa adanya -walau bagi kebanyakan penulis menganggapnya
satire, bahkan bermain-main. Bagian romantis dan ideologis hanya berupa
endapan, di antara pergulatan kekerasan dan kebrutalan.
Walau plot yang dibangun Eka sangat ganjil, tapi ia mampu
menyuguhkan realitas dengan begitu dekat, terlebih plot-plot itu dibangun
dengan pendasaran argumentasi, bukan semau gue penulis. Tantu berkebalikan
dengan plot-plot ‘logis’ tapi karena kurang bangunan argumentasi, maka realitas
yang dianggap logis itu pun terkesan berada di negeri dongeng. Dalam hal ini,
penulisan Eka berupa cerminan dari budaya dan realitasnya; vulgar dan jujur.
Ajo Kawir –tokoh dalam novel itu, menemukan kebijakan dan
kearifannya setelah melalui berbagai macam pertarungan. Ia akhirnya dapat
belajar dari sesuatu yang awalnya ia anggap sebagai kutukan; yakni, -maaf-
burungnya tak bisa berdiri.
Ajo Kawir lahir di sebuah dusun dengan kultur agama
doktriner. Ia tak pernah ‘berkomunikasi’ dengan agama yang ia yakini. Sewatu
kecil ia sering pergi ke suaru, bisa mengaji, dan sesekali suka shalat
–terlebih selepas melaksanakan dosa, dengan alasan untuk menghapusnya. Ia pun
percaya kalau berbohong, mulutnya akan disumbal di neraka kelak, sebagaimana
keterangan-keterangan komik yang ia baca. Tapi itu tak menjadikannya sebagai
orang yang taat dalam beragama.
Ada satu fase dimana cerita ini bermula, yakni ketika Ajo
Kawir tak bisa menatap masa depannya. Tentu ada yang merampasnya. Fase itu
digambarkan Eka dengan menghadirkan tokoh yang burungnya tak bisa berdiri, yang
membuatnya tak punya alasan untuk menikah, untuk merajut masa depan. Selanjutnya
pergulatan-pergulatan Ajo Kawir dan Si Tokek untuk dapat kembali membangunkan
burung Ajo Kawir tersebut, dari yang ‘tercerdas’ hinggat tersinting.
Setelah dicoba beberapa kali –dengan diolesi cabe merah
hingga disengat tawon- tak juga menuai hasil. Ajo Kawir pun tumbuh menjadi
orang yang nekat; orang yang tak takut mati karena tak bisa lagi menatap masa
depannya. Ia bertarung dengan beringas, dan tak perlu ada sebab jika ia sedang
mau –ia tinggal melemparkan kuntung rokoknya ke pangkuan orang yang ingin dia
ajak bertarung.
Hingga akhirnya ia bertemu Iteung, wanita yang mencintainya
setelah berduel dan kedua-duanya bonyok. Ini bagian terromantis yang ganjil.
Ajo Kawir si begundal itu sadar bahwa dirinya tak bisa melepaskan dari kata
cinta, tapi apa yang bisa dia lakukan dalam keadaan burungnya tak bisa berdiri?
Namun Iteung bersikeras, bahwa cinta untuk cinta, bukan yang lain. Si Tokek pun
mengingatkan, syarat pernikahan itu hanya ada lima, dan dari kelima syarat itu
tidak ada yang menerangkan harus punya burung yang dapat berdiri. Mereka pun
menikah dengan jargon: cinta hanya untuk cinta, bukan tektek-bengeknya.
Kearifan Ajo Kawir muncul setelah ia menjadi supir truk,
melalui permenungan-permenungannya dengan si burung yang tak bisa berdiri.
Kehidupan supir truk trek Pantura sepatutnya menjadikan ia lebih keras, tapi
tidak dengan Ajo Kawir, walau ia sering dipancing-pancing oleh saingannya
sesama supir truk, Si Kumbang. Ajo Kawir mulai menginginkan kehidupan yang
damai, dan menyelesaikan semua masalah dengan kata: maaf.
Setelah merenungkan banyak hal bersama burungnya yang tak
bisa berdiri, paling tidak ia dapat menyimpulkan satu hal: semakin banyak yang
kau ketahui, semakin banyak masalah yang bisa kau peroleh. Burung itu menempuh
jalan sufi, jalan pencari ketenangan.
Setelah berada di puncak kedamaiannya –memilih kata maaf
daripada bergulat atau sekedar beradu mulut, burung Ajo Kawir mulai bisa bangun
lagi. Tapi sayang, sang istri, Iteung, sedang berada di dalam penjara karena
menghajar dau polisi. Ajo Kawir pun menunggu waktu itu dengan sabar, dan si
burung meminta tidur lagi sewaktu Ajo Kawir menunggu.
Eka memainkan tokohnya bukan sebagai orang yang berada di
puncak pengetahuan, tapi membersamai tokoh itu dengan logika-logika sederhana
yang biasa ada di pedesaan, yang sedang ‘bertarung’ dengan kehidupan. Kalau
dilihat dari puncak pengetahuan, tentu tokoh-tokoh yang dihadirkan Eka itu
sangat tidak waras, sebagaimana komentar Aris Kurniawan.
Saya selalu merasa bahwa tokoh-tokoh yang dihadirkan Eka itu
sangat dekat dengan kita; mereka pemuda-pemuda yang secara tidak langsung
dipenggal masa depannya, dan dengan mudahnya bersikap kasar. Tokoh-tokoh yang
sering dimunculkan Eka hampir selalu begitu; mereka yang menjalani kehidupan
ini dari lapisan paling bawah (strata ekonomi, pendidikan dan agama) dan Eka
membersamai mereka, tak berdiri di ketinggian.
Yang perlu digaris-bahawi dari Eka ialah timbanganya bahwa
sastra untuk sastra. Jadi kalau melihatnya dari pandangan moral agama, maka
yang timbul hanyalah amoral, tidak waras. Eka tidak menobatkan dirinya sebagai
pengkhotbah kebenaran dan kebaikan, ia hanya pencerita, pencerita yang mewakili
zamannya. Bagaimana pun kalutnya zaman ini, bagi Eka, masih ada sisi-sisi untuk
diinsafi, seterusnya ditertawakan. Eka tidak mau membalut realitas dengan
kebohongan. Dan tentu, mau melihat dunia ini dari sisi sebelah mana, hanya
penulisnya lah yang kuasa. Dan Eka memilih jalan itu.

Komentar
Posting Komentar