Semakin banyak definisi tentang cinta, maka semakin rumitlah ia.
Acuy terkapar di tempat tidurnya. Ia mengeluarkan desahan napas yang teramat dalam. Ia tatap langit-langit, namun yang tampak adalah wajah Amel, kasih tak sampainya. Ia terpejam, namun tetap saja wajah itu tak mau hilang. Betapa asmara telah mengubah nasib hidup manusia.
Acuy tak mau terus terpuruk, maka ia pun mencoba mengukurnya dengan kedalaman logika. Wanita di dunia tak hanya ada satu. Kalaulah ia mencintai Amel karena rupa, pastilah ada rupa yang lebih elok. Kalaulah ia mencintai Amel karena harta, pastilah ada harta yang lebih melimpah. Kalaulah ia mencitai Amel karena keturunan, pastilah ada keturunan yang lebih mapan. Dan kalaulah ia mencintai Amel karena ketaatannya pada agama, pastilah ada wanita lain yang lebih salihah lagi.
Sejenak pikiran Acuy terang. Namun hanya sesaat dan hanya ada dalam pikiran. Hatinya tetap sama; merana karena cinta. Lamat-lamat Acuy mengakui, bahwa cinta bukan untuk mencari kesempurnaan. Ia telah mencintai Amel karena kediriannya, yang tak akan pernah ada pada wanita lain.
Pengakuan itu malah semakin memperkeruh keadaan, karena semakin ia mengakui sekata cinta, maka semakin meranalah ia. Acuy pun berpikir ulang, supaya hatinya bisa tenang.
Acuy mencoba membuat anasir lain. Kalau pun Amel menerima pinangannya, akan bahagiakah ia? Sanggupkah ia terima nasib yang tak pernah bisa dipilih manusia? Bisa bertahankah ia bila nanti hidupnya sengsara? Acuy menjawab sendiri; “Tidak”. Ia pun mengguratkan lagi senyumnya, sedang matanya masih terpejam bak pecundang.
Acuy seolah sudah menemukan teori baru; bila ditolak, maka itu artinya wanita tersebut tak siap hidup menderita bersamanya. Acuy cukup puas dengan teori barunya, namun ia lupa bahwa cinta adalah hal terabsurd sepanjang sejarah manusia. Terlebih, teori itu lahir dengan kesubjektifan hidupnya yang sengsara.
Acuy membawa teori itu kepada kawan dekatnya, Aming, yang sama-sama sedang merana karena cinta. Namun teori yang dipaparkan Acuy tak digubris oleh Aming, karena bagi Aming, cinta bukan ya atau tidak, tapi seni hidup yang penuh dengan dialektika. Rasa sakit bukan untuk dilawan, tapi untuk dihayati.
Aming mengemukakan bahwa cinta bukan hanya soal rasa, tapi juga cara. Percumalah manusia bila hanya punya rasa, tapi tak punya cara. Kadang rasa kalah oleh cara. Wanita yang tadinya tak suka, bisa jadi suka karena cara. Wanita yang tadinya suka, bisa jadi tak suka karena cara pula.
Acuy merenung. Ia merasa betapa sudah rumitnya cinta sekarang. Cinta sudah ditentulah oleh kepandaian mengolah bahasa. Cinta sudah ditentukan oleh pandai tidaknya berkata-kata di depan wanita.
Jeritan Acuy terdengar sampai ke telinga Obet, tetangga indekos Aming. Ia pun menggeram hendak membantah. “Pikiranmu sudah usang. Sekarang cinta tergambar pada citra. Kau sudah tak perlu mengolah bahasa. Kau sudah tak perlu berkata-kata di depan wanita. Kau hanya perlu mengulik dirimu semenarik mungkin, niscaya bakal banyak yang suka. Tampilkan dirimu sebagai orang yang istimewa, bukan orang yang merana. Sekarang cinta sudah jadi wibawa.”
Kening Acuy berkerut. Semakin tak paham ia pada cinta yang sudah terdefinisikan begitu banyaknya. Sepertinya definisi itu lahir seperti dirinya menemukan teori pertama; sebagai bentuk pelarian atas nama kekalahan. Orang yang tak pernah kalah atas nama cinta, maka ia tak punya waktu untuk mendefinisikannya. Dan semakin banyak definisi mengenai cinta, maka semakin rumitlah ia.
Acuy kembali lagi ke kamar kumuhnya. Buku berserakan di mana-mana. Gelas bekas kopi sudah dihinggapi serangga. Puntung rokok keluar dari tempatnya karena sudah tak muat. Sejenak ia merenung, lalu diambilah satu buku yang selalu jadi teman hidupnya. Darinya Acuy mengulik kembali, bahwa cinta tak bisa diada-ada dan tak bisa ditaida-tiada; manusia hanya dituntut pasrah untuk menerimanya.

Komentar
Posting Komentar