Teruntuk mahasiswa-mahasiswi baru, sebelum
anda ikut berkecimpung dengan mahasiswa-mahasiswi lama (seniormu), ada baiknya
anda mengenali beberapa tipologi mahasiswa terlebih dahulu, supaya kalian tak
menyesal di kemudian hari, lalu setelah lulus –atau malah gagal lulus, anda
mewek meronta-ronta ingin kembali lagi ke masalalu.
Kalian para mahasiswa baru, mau tak
mau -disadari atau pun tidak, adalah investasi bagi para mahasiswa lama (demi
kelanjutan hidup). Setiap generasi memerlukan penerus, setiap angkatan
memerlukan pelanjut; terlepas apakah yang diwariskan mereka berujung pada
kebaikan, atau malah sebaliknya.
Berikut beberapa golongan mahasiswa
yang harus anda ketahui, sekaligus waspadai:
Mahasiswa Idealis Natural
Mahasiswa idealis natural tak sukar
dijumpai dalam sejarah, misalnya kalau dalam film “Gie”, yakni yang menjadi
pemeran utamanya; Soe Hok Gie. Slogan agen of change tercipta dari
mahasiswa-mahasiswa tempo dulu yang punya watak semacam ini. Mereka “memamerkan”
titel mahasiswa dengan tradisi intelektual to, atau pergerakan sosial murni.
Cirinya, sudah tak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.
Watak semacam ini biasanya dipuja
di ruang kosong. Yang nampak ke permukaan hanyalah sebuah ide, gagasan
cemerlang; namun pribadi sang penggagas lenyap di tengah keramaian.
Bagaimana pun sukarnya menjadi
mahasiswa idealis natural, tapi sampai sekarang tetap masih punya pengikut.
Alasannya jelas, sampai sekarang, mahasiswa didefinisikan dan yang selalu
disemogakan berefek sosial karena keidealismeannya yang natural. Slogan dan
makna mahasiswa seolah hanya “sah” jika punya watak semacam ini, karena
bagaimana pun, sejarah mahasiswa banyaknya digoreskan oleh mahasiswa semacam
ini.
Untuk saat ini, watak idealis
natural memang agak sukar untuk dibedakan dengan mahasiswa idealis nyinyir. Tak
sembarang orang yang sanggup menitipkan masa depannya hanya pada keyakinan,
bahwa kabaikan akan berujung kebaiakan. Tak sembarang orang yang mampu mengubur
egonya untuk tidak ‘berpesta pora’ merayakan kehidupan. Seperti disinggung di
awal, mereka dipuja di ruang kosong.
Untuk anda mahasiswa baru, kalian
awalnya akan melihat mereka seperti alien di muka bumi ini; yang punya sikap
dan pendirian yang begitu ganjil. Namun yang menjadi heroiknya, mereka tetap
konsisten dengan pendirian ganjilnya itu.
Saran saya, kalau kalian sudah kuat
dengan godaan sosial, ikutilah mereka. Mereka punya azimat sakti untuk
menangkal kehidupan yang fana. Tapi kalau kalian masih suka berbuat manja,
jangan coba-coba mengikuti mereka -cukup kagumi saja; mereka tak punya waktu
untuk memanjakan dirinya sendiri.
Mahasiswa Idealis Nyinyir
Yang membedakan antara mahasiswa
idealis natural dengan mahasiswa idealis nyinyir yaitu pada tingkat
kecerewetan. Jika mahasiswa idealis natural lebih suka mencerminkan
pendiriannya pada sikap, maka mahasiswa idealis nyinyir mencerminkan
pendiriannya pada cakap.
Dalam sejarah, kita pun akan sering
menemukan mahasiswa semacam ini, misalnya kalau dalam film “Gie”, watak seperti
ini dicontohkan oleh sosok Zaka. Biasanya, mereka awalnya berkawan dengan
mahasiswa idealis natural, tapi akhirnya menjadi lawan. Penyebab utama mereka
menjadi lawan karena cakap mahasisnya nyinyir berlainan dengan sikapnya. Cakap
mereka mencari penyumbat, dan penyumbatnya itu bisa bermacam-macam rupanya. Bisa
jabatan, uang, atau malah dede gemes (mahasiswi baru yang masih
unyu-unyu).
Sekarang, mahasiswa nyinyir lebih
ramai lagi berkeliaran. Tingkat kecerewetan mereka semakin bertambah setelah
ramainya dunia maya. Mereka bak dewa sang penyelamat bumi; berbincang ini-itu,
mengecam mereka yang berlainan paham. Positifnya, tingkat kecerdasan mahasiswa
semakin bertambah, karena setiap harinya diasah kemampuan debatnya di mana saja.
Untuk kalian para mahasiswa baru,
kalian boleh saja berkawan dengan mahasiswa-mahasiswa semacam ini, tapi jangan sampai
baper, karena sering kali pendirian mereka hilir-mudik -tergantung mana
yang lebih menguntungkan. Kalian mahasiswa baru, bersama mereka hanya untuk
belajar bagaimana seharusnya berpikir, bukan apa yang seharusnya dipikirkan.
Mahasiswa Romantik
Mahasiswa romantik adalah mahasiswa
yang sangat mengasyikan, dan saking mengasyikannya, mahasiswa semacam ini
sering kita jumpai dalam acara-acara televisi. Maaf, maksudnya bukan dalam
berita-berita aksi demonstran, tapi sebagai tamu dalam acara-acara tertentu, dan
si mahasiswa datang lengkap dengan almamaternya.
Untuk menjadi mahasiswa romantik,
tentu tak sembarang mahasiswa dapat melakukannya. Selain harus mengasyikan
(bertepuk tangan sekuat tenaga jika disuruh, tertawa jika diintruksikan, dan
harus hafal betul nyanyian tra la la la, ye ye ye), tapi juga harus kinclong
saat disorot kamera; tentu saja ini yang paling menantang. Tak semua mahasiswa
diberi anugerah wajah yang sama, maka bercermin dulu lah sebelum akhirnya
kalian patah hati dibilang wajahnya tak cocok dengan kamera.
Mahasiswa romantik biasanya
berperan juga sebagai jurnalis paling baik. Tiap seminar, talkshow, rapat,
nongkrong, kongkow, dan seabreg aktivitas lainnya; selalu ia laporkan dengan
data-data yang begitu memukau, paling tidak dapat menghipnotis tangan untuk
mengklik ‘like’. Paling tidak karena mereka punya tampang yang aduhai.
Mahasiswa romantik yang mikir,
berpeluang juga untuk menjadi seorang sastrawan. Setiap episode yang
menegangkan dalam rutinitasnya menjalani perkuliahan, selalu terlampir
puisi-puisi yang indah nan sejuk. Seperti saat ia mulai bertarung dengan
skripsi, saat ada dosen yang susah memberi nilai, saat si dia gak ada kabar
sedang dirinya sedang butuh semangat, terlebih saat berhasil wisuda berkat
darah juangnya; semuanya terdokumentasi dalam antalogi puisi, yang kelak
puisi-puisi itu akan dicetak karena mengandung pepatah bijak, yang lalu buku
itu menjadi best seller. Hebat!
Untuk para mahasiswa baru, kalau
sekiranya punya wajah dan tubuh yang mempuni, maka silahkan saja mengikuti
kakak senior kalian yang semacam itu. Tapi ketika kalian terpental dan merasa
betapa jelimetnya berdandan setiap saat, tak usah gusar, karena memang wajah
anda sudah dari ‘sananya’ begitu, tak bisa diapa-apakan lagi. Lebih baik
perbaiki diri dari dalam terlebih dulu. Tapi kalau punya tampang yang rupawan,
ya banyak-banyaklah bersyukur, karena banyak orang yang memimpikan untuk
seperti anda.
Mahasiswa Gagal Move On
Tipologi mahasiswa yang terakhir
ini, paling sering saya jumpai saat ini. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang
punya kenangan yang sangat dalam ketika masa lalunya; raganya sudah menginjak
kampus, tapi jiwanya masih bergentayangan di sekolahnya dulu: saat-saat ketika
masih menjadi siswa.
Mahasiswa semacam ini biasanya
kuliah tanpa gairah. Bangun tidur – mandi - masuk kelas – belajar – pulang - tidur
siang - bangun lagi – main – pulang – menghapal - tidur lagi -bangun lagi.
Terus tiap hari seperti itu. Ironi, mungkin kelak setelah diwisuda, ia tak
meninggalkan kenangan apa-apa semasa kuliahnya, sembil kebingungan setelah
wisuda mau apa.
Untuk kalian mahasiswa-mahasiswi
baru, tentu kalian harus bisa move on. Biarlah yang lalu berlalu bersama berputarnya
waktu. Tak usah disesakkan sedemikian rupa. Terimalah kenyataannya saat ini,
saat kalian dinyatakan sebagai mahasiswa. Ayo move on.

Komentar
Posting Komentar